My First Online experience

25 07 2009

by : Arief

Ceritanya bermula waktu saya SMP. Tepatnya saya lupa ketika kelas berapa. Saya juga lupa guru saya siapa saja waktu itu. Penyakit lupa saya memang cukup parah. Cukup parah untuk membuat saya lupa dengan tanggal lahir saya. Ya sudah, nggak penting.

Yang saya masih ingat jelas, waktu SMP saya masih tinggal di Medan. Sekitar tahun 1999. Sebuah kota yang panasnya nggak jauh beda dengan Jakarta. Sebuah kota yang pernah mendapat julukan bahwa orang-orangnya dulu pernah ada yang mengkonsumsi manusia. Ya,kamu nggak salah baca kok. Memang orang makan orang! Saya nggak tau pasti apakah ada rumah makan yang menyediakan menu ‘orang goreng’, ‘orang saus tuna’ atau ‘orang semur jengkol’. Jujur, saya memang belum pernah menemukan restoran semacam itu.

Oke..oke, kembali ke topik. Saya nggak ingat pasti, alasan saya mulai berinteraksi dengan internet. Karena, secara gitu Internet belum terlalu terkenal waktu itu. Padahal saya hidup di zaman yang sudah cukup modern kok. Bukan zaman Fir’aun atau zamannya Pangeran Diponegoro masih ABG. Yang pasti, waktu itu saya begitu penasaran ketika pertama kali melihat sebuah rumah yang di depannya ada tulisan ‘Warung Internet’. Setiap sepulang sekolah, ketika naik angkot menuju ke rumah, saya pasti melewati ‘Warung Internet‘ itu. Saya makin penasaran. Waktu itu saya belum punya bayangan sama sekali tentang tempat bernama ‘warung Internet’ itu.

Kata warung saja cukup asing di Medan. Karena orang Medan biasa menyebut warung dengan ‘kedai’. Jadi saya juga kurang akrab dengan kata itu. Yang saya tau, warung itu punya arti yang sama dengan kedai. Tapi, saya makin bingung, soalnya di bayangan saya, yang namanya kedai itu tempat yang menjual banyak barang atau makanan. Tapi di tempat itu, saya nggak melihat ada sesuatu yang di pajang untuk dijual. Belum lagi kata Internetnya. Saya memang sering dengar kata kornet. Yang saya tau, itu daging yang dikalengkan. Tapi, saya ragu apa internet itu sejenis kornet.

Meski masih SMP saya nggak bego-bego banget. Yang saya yakin waktu itu, pasti kornet dan Internet itu nggak punya hubungan apa-apa. Kalo sekarang, justru saya yakin banget kalo kedua kata itu punya hubungan apa-apa. Orang yang jualan kornet pasti menggunakan Internet untuk menjual kornet-kornetnya. Betul kan? Begitulah, kepenasaran saya belum terjawab. Setiap hari saya pasti melihat ke arah ‘warung Internet’ itu.

Waktu itu cita-cita terbesar saya adalah masuk ke tempat yang bernama ‘warung internet’ itu. Bukan cita-cita yang bagus memang. Ketika TK saya punya cita-cita jadi arsitek, tapi ketika itu, cita-cita itu tergantikan dengan cita-cita masuk ke ‘warung internet’. Lalu, suatu hari saya iseng buka Koran punya ayah saya. Saat itu saya nggak sengaja menemukan kata Internet. Kata itu langsung menarik perhatian saya. Dan selanjutnya saya juga menemukan kata ‘website’ dengan embel-embel ‘www’ dan ‘com di awal dan di belakangnya.

Saya nggak ingat pasti apa website yang saya lihat waktu itu. Lalu otak saya mulai menghubung-hubungkan. Ada kata Internet, website, dan warung internet di otak saya. Waktu itu, entah kenapa saya bisa berpikir bahwa saya bisa melihat informasi yang ada di Koran itu di internet. Dan keinginan untuk masuk ke ‘warung internet’ itu semakin menggebu.

Akhirnya, suatu hari, entah malaikat apa yang memotivasi saya waktu itu. Saya sudah berada di depan pintu ‘warung internet’. Saya bingung, “masuk.nggak..masuk..enggak”. Tapi rasa penasaran itu luar biasa kuatnya. Akhirnya saya memutuskan. Saya masuk sodara-sodara! Dan, begitu masuk, dugaan saya tepat, nggak ada orang yang jualan kornet disini! Lalu saya membuka browser. Karena saya melihat hanya di ‘Internet explorer’ yang ada kata-kata internetnya, maka itu yang saya klik.

Klik sekali nggak bisa. Sekali lagi nggak bisa. Akhirnya saya klik berulang-ulang. Ternyata banyak yang muncul. Saya buang semua, dan tinggal satu browser. (waktu itu saya nggak tau itu internet explorer itu namanya browser). Lantas, saya masukkan alamat website ke kotak yang ada tulisan ‘address’ nya. Karena Cuma itu tempat yang bisa di ketik. (lagipula saya juga sudah tau kalau ‘address’ itu artinya alamat!) Setelah menunggu beberapa detik, muncul sesuatu di layar. Sampai akhirnya muncul secara sempurna. Beuh! Keren juga pikir saya waktu itu.

Setelah itu, saya coba dengan alamat-alamat website lain yang ada di kotak ‘address’ itu. Awalnya saya masih bingung, tapi setelah beberapa menit, malah jadi keasyikan. Berhubung saya masih SMP dan bawa duit pas-pasan, saya nggak terlalu lama nge-net nya waktu itu. Setelah itu saya semakin sering datang ke ‘warnet’ (saya baru tau waktu itu, orang sering menyingkat warung internet dengan warnet) tapi baru sebatas browsing saja. Karena memang baru bisa browsing saja.

***

Ketika SMA, jarak sekolah dan rumah cukup jauh. Bisa makan waktu 2-3 hari kalau jalan kaki. Setelah diadakan konferensi keluarga, akhirnya diputuskanlah, saya harus ‘dibuang’ jauh dari rumah. Saya jadi anak kos! Disini interaksi saya dengan internet lebih akrab lagi. Saya semakin mengenal Internet. Ternyata Internet sangat menyenangkan. Saya rasa saya sangat cocok dengan internet.Saya telah jatuh cinta pada Internet. Rencananya bulan depan saya akan kerumahnya untuk bertemu dengan orang tuanya sekaligus melamar. (ini ngomongin apa sih?!.. hehe)

Di SMA juga saya membuat e-mail pertama kali. Yang sampai saat ini masih beroperasi. Email saya itu adalah : crief16@yahoo.com. Bukan sembarang email. Tapi itu ada filosofinya. Diambil dari nama saya; Arief. ‘C’ dalam bahasa Inggris akan dibaca ‘si’ kan dalam bahasa Indonesia. ‘R’ akan dibaca ‘ar’. Jadi ketika di gabungkan akan menjadi “si arief”. Haha, maksa sih, tapi biarlah. Namanya juga anak muda. Angka 16 itu adalah usia saya waktu membuat email itu. Ya, usia saya waktu itu 16 tahun. Anak sekarang umur 16 tahun, mungkin sudah ada yang bisa bikin program aplikasi computer, zaman dulu, baru bisa bikin email. Ck..ck..ck..

Ketika tinggal di kos-kosan,saya satu kamar dengan seorang teman. Teman ini berasal dari Riau. Bukan di kotanya. Tapi, dari kotanya, dia harus menyebrang dengan kapal untuk mencapai sebuah pulau. Nah, di sanalah rumahnya. Jangankan internet, saya juga masih ragu apakah disana sudah masuk listrik sekarang. Ya, begitulah teman saya itu. Dia baik. Tapi masih lugu banget! Nah, berhubung saya satu kamar dengan dia, mau tak mau, saya juga sering jalan bareng dia. Termasuk main ke warnet.

Dari sanalah saya mengenalkan internet padanya. Setelah kenal dengan internet. Sepertinya dia juga jatuh cinta. Bisa dipastikan setiap hari dia ke warnet. Mending kalau sebentar. Dia bisa menghabiskan 3-4 jam di warnet. Set dah! Saya aja yang ngajarin nggak pernah lebih dari dua jam di warnet. Bukan karena nggak mau, tapi keuangan anak kos kan terbatas. Saya jadi khawatir dengan teman saya itu.

Bayangkan saja, kalau setiap hari dia menghabiskan 3 jam dalam sehari di warnet, berarti dia menghabiskan Rp.9ribu/hari. Dikali 30 hari berarti Rp.270ribu dalam satu bulan! Dahsyat! Untungnya dia cepat sadar, bahwa dia masih membutuhkan uang untuk makan sehari-hari. Kalau nggak, berarti saya adalah orang yang paling berjasa membuat teman sekamar mati kelaparan gara-gara nge-net over dosis.

Begitulah, sejak itu saya lebih banyak berinteraksi dengan internet. Mulai kenal dengan chatting, googling, blogging dan sebagainya. Kita pun perlu bijak menyikapi teknologi. Teknologi adalah kemudahan yang luar biasa buat kita. Dia pun bisa jadi positif dan bisa jadi negative. Dia bisa jadi pahala, dia pun bisa jadi dosa. Maka, selanjutnya terserah kita, akan pilih yang mana.