Sebuah Kritik untuk Tukang Kritik…

18 10 2008

Sebuah Kritik untuk Tukang Kritik…

By : Arief

Dua hari yang lalu ada seorang teman penulis yang bercerita kepada saya. Lebih tepatnya mencurahkan isi hatinya pada saya. Dia bilang, salah satu buku karyanya, dikritik sama orang lain, yang dia sama sekali nggak kenal dengan si kritikus. Mending mengkritiknya langsung. Face to face. Tapi ini nggak. Sang krtitikus itu mengkritik dan membandingkan dengan karya sejenis (yang menurutnya lebih bagus) di sebuah blog! Padahal menurut saya, novel teman saya itu nggak jelek-jelek amat. Buktinya sampai sekarang, sudah beberapa kali cetak ulang. Di beberapa toko buku stoknya habis. Dan banyak juga tuh yang memberi pujian. Yang memberi pujian juga orang yang nggak dikenalnya.

Teman saya bilang, si kritikus itu mengatakan kalau novelnya itu sudah seperti buku bertema social, politik dan agama saja. Dan banyak lagi yang dikomentari si kritikus. Yang menyakitkan ya itu, si kritikus itu mengkritik di sebuah blog. Di internet gitu loh! Terang saja teman saya itu mencak-mencak. Jelas ia merasa dirugikan dengan kritik itu. Bayangkan berapa banyak orang yang tadinya ingin membeli bukunya, tapi urung gara-gara membaca tulisan (kritik) di blog itu.

Saya hanya bisa mendengarkan. Karena saya pun bingung harus berkata apa. Bukan saya nggak bisa memberikan pendapat pada teman saya itu. Saya bisa. Masalahnya saya juga punya masalah yang sama. Itu yang bikin saya bingung.

Beberapa hari yang lalu, saat buka puasa bareng teman-teman seangkatan di sekolah dulu, saya juga mendapat kritikan yang sama. Teman saya yang mengkritik itu bilang, novel saya itu kebanyakan ceramahnya. “Kalau mau cerita ya cerita saja..meskipun ceramahnya dimasukkan ke dalam dialog, tapi tetap saja nggak enak. Tokohnya juga nggak konsisten..bla..bla..blaa..” kata teman saya itu panjang lebar. Saya Cuma tersenyum sinis. Lalu saya bilang padanya, “saya baru bisa bikin yang seperti itu, kalau bisa ya, bikinlah yang lebih baik..” kemudian saya Tanya padanya “apa lagi kritiknya?” dia bilang “itu aja..” lalu dia diam. Dalam hati saya, memangnya Ayat-Ayat Cinta itu isinya nggak ceramah. Lebih banyak ceramahnya malah daripada ceritanya.

Tapi saya bersyukur saja masih ada yang mengkritik saya. Berarti masih ada yang peduli dengan karya saya. Apalagi saya yang memintanya. Bagus deh, siapa tau dengan kritikan itu, buku saya bisa cetak ulang terooss. J

Uniknya, orang yang mengkritik teman saya itu punya satu kesamaan yang mendasar dengan teman saya yang mengkritik saya itu. Kesamaannya ; mereka sama-sama anggota di sebuah forum kepenulisan yang sama. Yang satu cabang Bandung, satunya lagi Cabang Medan.

Tadi siang, saya membaca tiga kritikan lagi. Tentang tiga karya yang berbeda, yang dua malah berskala nasional. Jauh lebih hebat dari karya saya dan teman penulis saya itu. Satu kritikan untuk Laskar Pelangi, satu lagi untuk Film Sang Murabbi. Si kritikus Laskar Pelangi bilang; “Laskar Pelangi itu Gaya alurnya lambat. Baik alur maju maupun mundur.”

Saya senyum baca komentar si kritikus ini. Kok bisa ya dia ngasi kritik untuk novel yang ’National Best Seller’ dan udah dibikin filmnya itu. (kalau novel saya dikritik, itu wajar!masih amatiran soalnya.) ini malah sudah dibikin soundtracknya sama Nidji. Dipuji-puji di Kick Andy. Dan media-media lainnya.

Kritikan untuk Sang Murabbi lebih dahsyat lagi. Dia membuatnya di koran Pikiran Rakyat (29/09) yang juga masuk di internet. Si kritikus bilang ” Memang setelah menontonnya, saya yakin kalau film “Sang Murabbi” lebih baik diberi label “Untuk Kalangan Sendiri” karena hanya bisa dimengerti untuk mereka yang termasuk ke dalam jenis penonton “aktivis dakwah”. Tapi ini juga yang membuat saya kecewa, bahkan saya merasa film ini adalah salah satu bukti kemunduran dalam dunia dakwah yang didengung-dengungkan para filmmaker islami, dengan kata lain film ini alih-alih mengajarkan Islam yang sesungguhnya atau menampilkan sosok teladan yang wajib dicontoh kepada penontonnya, justru film ini bisa jadi kontraproduktif dengan misi semula.”

Intinya dia bilang, film Sang Murabbi itu nggak bagus! Karena nggak sesuai dengan universalitas dakwah. Yang dalam persepsi si kritikus itu harus global, harus bisa menjangkau semua elemen masyarakat. Dia juga bilang film ini mubazir, karena pesan yang ingin disampaikan tidak sampai. Katanya Allah nggak suka dengan sesuatu yang mubazir.

Saya tertawa ngakak membaca kritikan si kritikus film itu. Sang Murabbi itu kan memang film untuk kalangan sendiri. Si sutradara pasti udah mikirin semuanya sebelum dia bikin film ini. Dan produsernya pasti udah mikirin semua tentang prospek, sasaran dan maksud film ini. Jadi jangan sok tau deh! Dan yang bikin saya penasaran. Jangan-jangan si kritikus ini ’belom ngaji’ dan sok tau sendiri dengan bicara tentang dakwah. Atau,kalaupun dia sudah ngaji, jangan- jangan baru mentoring dua bulan. Ck..ck..

Yang ketiga, kritik pada novel ‘Da Peci Code’ yang ditulis oleh Ben Sohib . Si kritikus bilang novel nya nggak lucu, garing dan lain sebagainya. Si kritikus ini juga mendiskusikan novel ini dengan kritikus lain, yang bilang “ini novel nggak penting buat dibaca!” Yang jelas, penulisnya bakalan nyesek banget kalau baca komentar si kritikus di blognya itu. (tadinya saya mau ngasi alamat blognya disini, Cuma males. Ntar dia malah jadi selebritis!)

Ada satu hal unik yang membuat saya tersentak ketika mengetahui hal ini. Tau nggak sih? Ternyata, orang yang mengkritik teman penulis saya di blog itu, orang yang mengkritik film Sang Murabbi,dan orang yang diajak berdiskusi dengan kritikus ‘da peci code’… adalah orang yang sama. (kalau penasaran dengan kritikus nggak ada kerjaan ini, ketik saja di Google “ ‘cause heaven is in here…” antum akan tau siapa orang ini.

***

Hmm..saya jadi ingin menuliskan sesuatu untuk para tukang kritik itu …

Wahai para tukang kritik …

Sebaiknya kalian semua berpikir dulu sebelum memberikan kritik pada orang lain. Tanyakan pada orang yang akan kalian berikan kritik, apakah mereka bersedia dikritik atau tidak? Kalau nggak mau dikritik nggak usah sok mengkritik! Atau kalau belum nanya sama orang yang mau dikritik, nggak usah dikritik. Mungkin dia sedang nggak mood untuk dikritik.

Wahai para tukang kritik …

Sebaiknya kalian belajar bagaimana cara nabi kalian memberikan kritik dan apresiasi untuk orang lain. Sudah jadi fitrah manusia, untuk senang menerima pujian. Bahkan Rasulullah pun sering memuji para sahabatnya. Lihat cara Rasulullah memuji Abu Bakar dalam beramal Soleh, lihat juga cara beliau memuji Umar, Ali, Usman dan sahabat-sahabat yang lain atas ‘karya’ yang telah mereka hasilkan. Lihat cara Rasulullah memberikan kritik pada seseorang. Pernahkah beliau mengumumkan kejelekan seseorang itu? Tirulah nabi kalian itu!

Wahai para tukang kritik …

Mungkin dalam organisasi yang kalian geluti, kalian biasa mendiskusikan sebuah karya. Mengkritik karya itu. Tak masalah kalau kalian melakukannya dalam komunitas kalian saja. Dan menutup kemungkinan untuk orang lain tau apa yang kalian lakukan itu. Jadi jangan sekali-kali mempublikasikan kritikan kalian itu jika itu bisa membuat orang lain terluka. Mungkin kalian berpikir “kritik itu kan untuk membangun…”. Oke! Nggak masalah! Selama orang yang kalian kritik itu yang meminta untuk dikritik! Tapi apa kalian yakin kalau kalian yang dikritik, kalian akan menerima dengan lapang dada?

Wahai para tukang kritik …

Teman saya bilang seperti ini “sebaiknya tukang kritik itu mengubah cara berpikirnya! Memangnya mereka siapa mengkritik orang? Kalo emang bisa bikin yang lebih bagus. Jangan Cuma bisa ngomong!” sepertinya ada benarnya kata teman saya itu. Daripada kalian sibuk mengkritik karya orang lain yang kalian anggap jelek, lebih baik kalian berpikir untuk membuat yang lebih bagus dari karya itu. Buktikan kalian bisa lebih baik daripada orang yang membuat Laskar Pelangi atau Sang Murabbi itu. Buktikan karya kalian bisa lebih baik dari karya mereka.

Sekian…

***

Semoga para tukang kritik itu membaca ini. Dan bertobat. Bangsa ini butuh orang yang lebih banyak berbuat daripada bicara. sudah banyak orang yang kerjaaannya bicara. Trainer, Psikolog, Presenter, Anggota DPR. Di DPR sana mereka setiap hari kerjaannya hanya bicara. Jadi biarkan saja mereka yang banyak bicara. jangan ikut-ikutan. Kalau semua bicara, siapa yang akan bekerja? Kritik memang menyehatkan, ketika dibangun dengan unsur yang juga membangun. Niat nya juga membangun. Jadi silakan mengkritik, ketika kita tau apa saja yang harus dilakukan sebelum mengkritik.

Selamat mengkritik dan dikritik.

Wallahu A’lam.

Medan. 23.00 WIB

Satu hari sebelum Ramadhan berakhir.

Iklan




CINTA TANPA SYARAT

3 10 2008

CINTA TANPA SYARAT
Action & Wisdom Motivation Training

by : Andrie Wongso

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, “Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar.”

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. “Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,” kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. “Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan’. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,” kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, “Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita.” Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. “Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi…. kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.”

Nenek segera menimpali, “Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua.”

Pembaca yang budiman,
Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso
http://www.andriewongso.com





Met Idul Fitri…

2 10 2008

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Jika hati sebening air,
jangan biarkan ia keruh…
Jika hati seputih awan,
Jangan biarkan ia mendung…
Jika hati seindah bulan,
hiasi ia dengan iman…
Sebagai rasa syukur
menyambut Idul Fitri,
Walau jemari tak bisa menjabat,
Semoga kata dapat menjadi jembatan
Minal Aidzin Wal Fa’idzin
Mohon Ma’af Lahir & Batin
Taqobalallahu minna wa minkum…
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.





Besok Ramadhan Pergi

29 09 2008

Besok Ramadhan Pergi

By : arief

 

Malam ini hujan turun derasnya. Setelah itupun hujan tak langsung reda. Gerimisnya masih terus membasahi bumi. Malam ini adalah malam terakhir menikmati malam-malam Ramadhan. Malam yang terus ditemani lantunan firman Allah, deraian dzikir-dzikir panjang, linangan air mata para perindu syurga dan pahala di Ramadhan mulia.

Ah..rasanya sulit berpisah dengan Ramadhan ini. Ibadahku masih pas-pasan. Tak ada yang bisa dibanggakan dari ibadahku sebulan ini. Menyesal? Menyesal memang datang belakangan. Ketika semua tak mampu diraih, penyesalan pun hadir. Ia hadir begitu saja. Meski tak ada yang memintanya hadir.

Aku kadang berkhayal, bagaimana ya kehidupan Ramadhan para shahabat Rasulullah dulu? Kalau di luar Ramadhan saja mereka mampu menghabiskan AlQuran dalam 7hari. Lalu berapa lama mereka menghabiskan AlQuran dalam Ramadhan? Sulit dibayangkan. Bagaimana mereka menghabiskan hari-hari Ramadhannya dengan Ibadah yang takkan pernah dianggap biasa oleh orang sepertiku.

Ah…Ramadhan…

Besok engkau akan pergi ya?  Akankah kau kembali lagi menemuiku?

Ah…Ramadhan, malam-malammu kan banyak malaikat yang turun ke bumi. Tolong bantu aku meminta pada Tuhanku. Agar aku bisa menemuimu kembali tahun depan. Karena Cuma pada malam-malammu begitu banyak pahala yang diturunkan. Karena hanya pada malam-malammu, begitu banyak do’a-do’a yang dikabulkan.

Wahai sejuta malaikat yang turun malam ini. Malam ini masih Ramadhan. Ramadhan terakhir tahun ini. Dan kalian, makhluk Allah yang suci, yang tak pernah tertolak pintanya. Kumohon, bantu aku meminta pada Tuhanku. Agar DIA mengizinkanku bertemu dengan Ramadhan tahun depan.

Ah, air mata…kenapa engkau baru keluar sekarang? Saat Ramadhan hampir berakhir.

Ah, Jiwa…kenapa kau begitu tega membiarkanku melewatkan malam Ramadhan tanpa makna?  

Yaa Robb..izinkan aku menemui Ramadhan tahun depan ya?

 

00.25 WIB

Malam Ramadhan Terakhir, 1429H





Pursuit of Happiness

27 09 2008

Pursuit of Happiness

by: Arief

Pernah nonton judul film di atas? Kalau belum, saya sarankan untuk menontonnya. Film ini diinspirasi dari sebuah buku dengan judul yang sama; Pursuit of Happiness. Film ini diperankan oleh Will Smith sebagai Chris Gardner.

Chris Gardner adalah seorang pria kulit hitam, penjual salah satu alat kedokteran. Setiap hari dia membawa-bawa kotak-kotak besar alat kedokteran itu untuk dijual ke rumah sakit. Tapi itu pula yang membuat ia dan isterinya bertengkar. Kotak-kotak besar itu tak mampu menghasilkan uang yang cukup untuk keluarganya. Sampai akhirnya isterinya pergi meninggalkannya, dan Chris harus merawat anaknya seorang diri. Persoalan hidupnya belum berakhir, setelah itu ia harus rela diusir dari rumah kontrakannya karena tak mampu membayar uang kontrakan.

Ia bersama anak laki-lakinya sampai tidur di toilet di sebuah stasion kereta karena tak memiliki tempat tinggal. Sekali waktu ia tinggal dengan para homeless lainnya, sambil terus menjual kotak-kotak besarnya. Masalah hidup seolah tak berhenti mengejarnya. Ia harus kehilangan kotak-kotak besarnya, dan mengejar-ngejar pencurinya. Walaupun akhirnya ia berhasil mendapatkannya.

Perjuangan hidupnya terus berjalan, ia harus berlari-lari dari kantor polisi mengejar waktu demi mendapat wawancara di sebuah kantor pialang saham. Hingga akhirnya dengan perjuangan kerasnya, ia berhasil menjadi salah satu pialang saham terkaya di Amerika.  Ia berhasil menjadi jutawan dan CEO sebuah perusahaan stockbroker ternama di Amerika yaitu Christopher Gardner International Holdings dengan kantor yang kini tersebar di New York, Chicago, and San Francisco.

Saya bukan sekadar ingin me-review film ini. Atau ingin mempromosikan film ini. Apa untungnya buat saya? Saya ingin menunjukkan pada antum untuk melihat dengan jelas. Sebuah kebahagiaan itu takkan pernah datang dengan sendirinya. Tapi ia harus dikejar. Ia harus diusahakan.

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menjadi saksi ketika Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Saya saksi dari salah satu calon yang akhirnya berhasil menang menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur. Ini bukan cerita tentang pemilihan gubernurnya. Ini cerita tentang saksi dari calon pasangan cagub lain yang duduk di sebelah saya. Namanya Aldi. Sepanjang waktu pencoblosan, kami bercerita tentang banyak hal. Mas Aldi banyak bercerita tentag pengalaman hidupnya.

Pengalaman hidup yang luar biasa. Pengalaman hidup yang diceritakannya, menurut saya jauh lebih dramatis daripada Chris Gardner itu. Mas Aldi pernah menjadi seorang pialang saham juga rupanya. Persis seperti Chris Gardner. Ia sudah mencapai puncak karirnya waktu itu. Punya mobil, punya rumah, barang-barang mewah dan lain sebagainya. Ia sudah sangat bahagia waktu itu dengan segala ketercukupannya.

Hingga suatu hari antara tahun 1997an, krisis ekonomi melanda Indonesia. Banyak perusahaan yang bangkrut. Dan ia jadi salah satu korbannya. Semua harta yang dimilikinya musnah. Ia bangkrut dan jatuh miskin. Salah satu temannya yang juga jatuh miskin bahkan sampai loncat dari jembatan penyebrangan, bunuh diri karena stress. Sejak itu ia menjalani profesi barunya sebagai gembel. Tidur di kolong jembatan, makan seadanya. Keluarganya yang mengetahui itu prihatin juga. Ia disuruh menempati rumah kosong milik pamannya. Setiap bulan ia mendapat jatah sekarung beras dari pamannya itu. Tapi hanya beras. Untuk lauknya ia harus mencari sendiri. Coba tebak apa yang menjadi lauknya? Kebetulan di depan rumah itu ada pohon belimbing. Dan..selama sekitar 3bulan ia makan nasi dengan belimbing sebagai lauknya!

Tapi ia sadar ia harus berbuat sesuatu. Lalu ia mulai merangkak kembali meraih masa depannya. Segala jenis pekerjaan dilakukannya. Sampai saat ia menceritakan cerita ini ia sudah punya sebuah perusahaan property bersama teman-temannya, dan satu buah Event Organizer.

“kalau saja saya tidak ingat punya iman waktu itu, saya sudah jadi penjahat sekarang!” katanya waktu itu. Saya tercenung mendengarnya. Persis seperti yang pernah dikatakan Rasulullah, “kefakiran itu sangat dekat kepada kekufuran.”  

Kebahagiaan itu takkan pernah datang dengan sendirinya. Ia harus diupayakan. Ia butuh keringat yang menetes, air mata yang mengalir, bahkan darah yang tertumpah.

Saya teringat yang dikatakan Chris Gardner kepada anak lelakinya, “if you have a dream..go get it!”  





Menikmati Proses…

21 09 2008

Menikmati proses…

by : Arief

Seringkali dalam kehidupan kita, kita ‘dipaksa’ untuk menunggu. Meskipun kita semua sepakat, menunggu adalah pekerjaan yang paling dibenci hampir sebagian besar manusia di muka bumi ini. Hanya orang yang punya alasan khusus yang bisa menyukai pekerjaan menunggu. Seorang pelajar yang sedang kelaparan dan menunggu bel pulang sekolah. Seseorang yang menantikan waktu pernikahannya. Seorang panitia yang menunggu ustadz yang akan mengisi acara. Tukang becak yang sedang menunggu calon penumpangnya.

Namun, ada sisi lain dari sebuah penantian yang memang wajib dilalui. Sisi lain itu sungguh wajib dilewati. Meski melewatinya bukanlah suatu pekerjaan mudah. Tapi semua sudah ada aturannya. Penantian itu tetap harus dilalui. Bahkan, jika kita memaksa untuk tak melewati penantian itu. Hasil yang kita nantikan tak akan pernah bisa dibanggakan.

Penantian itu kita namakan sebuah proses. Proses merupakan sesuatu yang mesti dilalui untuk mencapai sesuatu. Proses adalah perjalanan dari A menuju Z. Dari A takkan pernah mungkin bisa langsung mencapai Z, tanpa melewati B,C, D, E, dan seterusnya sampai X,Y lalu Z. Semua dilalui dengan langkah satu per satu. Untuk membuat suatu kata pun, semua harus dilewati dengan langkah yang satu per satu. Misalkan kata PRESIDEN. Untuk membuat kata itu, semua huruf harus disusun satu persatu dengan susunan yang benar. Pertama letakkan huruf P, R, E, lalu S,I kemudian D,E, dan terakhir letakkan huruf N di akhir kata. Semua huruf disusun dengan tepat. Kita tak bisa meletakkan huruf R dulu baru P, atau S dulu baru E. Kalau begitu, semua akan kacau. Dan kita takkan pernah mendapat kata PRESIDEN yang kita inginkan. Dan itu adalah proses.

Begitupun semua yang terjadi di dunia ini. Semua terjadi dengan proses bukan? Dalam satu hari ada satu momentum yang kita namakan Pagi, ada siang, ada sore dan ada malam. Untuk mencapai malam, kita harus rela melewati siang dan sore. Untuk mendapatkan siang, kita harus melewati pagi. Begitu seterusnya.

Coba lihat hujan! Pernahkah kita menyaksikan hujan langsung turun dengan derasnya tanpa memberikan sinyalnya pada kita? Tidak kan? Hujan mengirimkan sinyal mendung, angin, kilat dan terkadang petir sebelum ia turun membasahi bumi. Dan itu adalah proses.

Coba lihat Al Quran! Kitab suci kita itu telah mengajarkan begitu banyak ilmu pada kita. Berapa banyak Al Qur’an bicara tentang proses disana? Dua contohnya adalah penciptaan alam semesta dalam 6 masa, dan penciptaan janin dalam 40 hari menjadi ini, 40 hari menjadi itu. Apakah Allah SWT kurang hebat, sehingga menciptakan sesuatu dengan waktu selama itu?

Lihat bagaimana Rasulullah hidup, dan mengajarkan kehidupannya kepada kita. Apa Rasulullah, manusia hebat itu bisa menjadi begitu hebat dalam satu tepukan tangan? Atau dalam satu teriakan “abracadabra”.  Lalu, ‘crriingg..’ jadilah Rasulullah menjadi manusia yang superhebat. Begitukah? Tidak. Rasulullah telah melalui proses panjang untuk menjadi sehebat itu. Beliau sudah melewati fase-fase wajib yang harus dilewati sebagai syarat untuk menjadi hebat. Beliau dibelah dadanya oleh malaikat dan dibersihkan hatinya. Ikut perundingan politik dengan kakeknya. Ikut bisnis dengan pamannya. Mengembala domba. Ikut berperang. Menjadi negosiator.  Dan fase-fase kehidupan lain yang menjadi proses kreatif pembentukan kehebatan seorang Muhammad SAW.

Apakah sulit bagi Allah menciptakan alam semesta dalam sekali kejapan mata? Apa sulit bagi Allah menciptakan janin dalam waktu seminggu, sehari, atau bahkan sedetik? Apakah sulit bagi Allah menjadikan Muhammad manusia hebat dalam sekali penciptaan? TIDAK. Sama sekali tidak. Allah hanya tinggal bilang “KUN” Jadi! Fa Ya Kun..Maka jadilah. Maka jadilah apapun yang dikehendaki Allah. Allah tidak pernah lama dalam membelah laut merah dan menenggelamkan fir’aun kan? Allah tak pernah lama dalam menenggelamkan Qarun karena kecongkakannya kan? Allah tak pernah lama dalam melenyapkan kaum ‘Aad dan kaum Tsamud. Allah tidak pernah lama dalam membuat Tsunami, dan mengambil ribuan nyawa sekaligus bukan? Jadi tak ada sedikitpun kesulitan bagi Allah untuk melakukan semua itu.

coba liat kembali AlQuran…bahkan untuk statement pelarangan dalam AlQur’an pun, Allah melakukannya dengan cara step by step..selangkah demi selangkah..liat cara ‘cerdas’ Allah melarang khamr (miras). Allah nggak langsung ‘main’ bantai aja kan? Tapi Allah memulainya dengan “..laa taqrobusholaah..wa antum sukaaro..” Allah memulainya dengan.. “Jangan solat kalo lagi mabok!” nah, selanjutnya baru Allah memberi penegasan “JANGAN MABOK!”. Saat Allah memberi penegasan itu, seketika itu juga Mekkah banjir khamr.  Coba bayangkan kalau Allah langsung bilang “JANGAN MABOK!” saat pertama memberi pelarangan khamr. Bisa jadi hasilnya tidak akan maksimal kan?

Ada pelajaran yang ingin diberikan Allah dari Statement itu..

Allah ingin kita menghargai dan menikmati proses!  

Lihat seorang pelukis. Adakah yang membuat lukisan indah, tanpa melalui sapuan kuas pertamanya? Tidak! Ia harus memberi warna ini, warna itu, bentuk ini, bentuk itu. Sehingga akhirnya bisa menjadi lukisan yang ‘hidup’, yang menawan setiap orang yang menatapnya. Dan itu adalah proses.

Coba lihat JK.Rowling, Andrea Hirata, Habiburahman el Shirozy! Apa Harry Potter, Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta tercipta begitu saja? Tidak! Mereka harus melewati proses panjang untuk menjadi seperti sekarang.

Coba lihat pendiri GE, penemu bola lampu pertama, Thomas Alpha Edison. Apa dia menciptakan lampu dengan sekali percobaan? Tidak! Ia menghabiskan begitu banyak umurnya untuk melakukan 9999 kali percobaan, dan semuanya gagal! Berhentikah ia? Tidak! Ia sadar sepenuhnya, bahwa kegagalannya itu adalah sebuah proses. Dan sekali lagi percobaan, ia pun berhasil.  

Coba lihat Bill Gates, manusia yang diklaim punya uang yang jauh lebih besar daripada APBN Republik Indonesia itu. Apa dia mendapatkan kekayaannya seperti hujan yang turun dari langit? Tidak kan? Dia meraihnya dengan keringat dan air mata. Dia mendapatkannya dengan pengorbanan yang luar biasa besar.  

Atau, kalau kita lupa..coba lihat Negara kita tercinta ini. Kemerdekaan yang dulu diraih oleh para pahlawan, apakah begitu saja diberikan oleh para penjajah? Tidak. Para pahlawan itu harus menebusnya dengan keringat, air mata, bahkan darah yang harus tertumpah demi pembebasan tanah air tercinta.

Atau..kita perlu contoh lain? tentang mereka yang masih menikmati prosesnya?

Coba lihat Palestina! Mereka adalah salah satu contoh nyata yang masih menikmati prosesnya. Menikmati proses menuju Palestina merdeka. Tersiksa kah mereka? Sedihkah mereka? Tidak! Mereka sadar dengan sepenuh hati bahwa mereka sedang menjalani dan menikmati proses. Mereka sudah tau hasil akhirnya. Palestina merdeka, dan Israel binasa. Itu kan yang dijanjikan Rasulullah? Jadi tugas mereka sekarang adalah berjuang lebih keras, dan menjemput takdir mereka. Mereka berjuang keras sampai syahid atau…mereka berjuang keras sampai Palestina merdeka. Mereka menjemput salah satu takdir itu.

Nah, sekarang masalahnya, sejauh mana kita menghargai  dan menikmati proses?

Menghargai dan menikmati proses itu berbanding lurus dengan menghargai dan menikmati kerja keras, ketekunan, kreativitas, tangan yang bekerja lebih banyak dari biasanya, mata yang terjaga lebih lama dari biasanya, dan hati yang jauh lebih keras daripada baja. Seperti itulah menghargai proses. Seperti itu juga menikmati proses.

Jadi, sudahkah kita menghargai dan menikmati proses kehidupan kita ?  

 

(beuh! Serius banget yak! Udah kayak Anis Matta aja gue. Yang bikin menikmati demokrasi. J)

***

 





Jalur Negeri VS Jalur Swasta

18 09 2008

Jalur Negeri VS Jalur Swasta

by : Arief

Awalnya aku bingung harus menuliskan apa. Masalahnya bukan karena tak ada bahan yang akan kutuliskan. Tapi justru karena terlalu banyak bahan di otakku yang harus segera ditumpahkan ke computer.

Akhirnya kupilih satu bahan yang kurasa paling penting untuk diperbincangkan dan didiskusikan. Karena masalah ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Tapi bukan WC umum loh!

Keinginan untuk mengangkat masalah ini bermula dari obrolan semalam dengan teman-teman dan adik kelas ketika di SMA dulu. Semalam aku hadir di undangan adik kelasku yang akan meng-akikah-kan anaknya yang baru lahir. Mereka berdua, suami-isteri adalah adik kelasku. Yudi, si suami adik kelas satu angkatan dibawahku. Sedangkan May, isterinya, adik kelas dua angkatan dibawahku. Awalnya obrolan ini tak melibatkan Yudi. Karena dia sibuk meladeni tamunya yang lain.

Aku ngobrol bareng Nisa dan Suci. Nisa teman seangkatanku, dan Suci adik kelas dua tahun dibawaku. Seangkatan dengan May. Awalnya aku iseng nanya dia kuliah dimana? Tinggal dimana? Asal darimana? Bla…bla…blaa.. lama-kelamaan ngobrol dengan mereka jadi lebih seru. Ngobrolin tentang tulis menulis. Dari obrolan itu aku baru tau kalau si Nisa itu salah satu anggota dari FLP Medan. Wah, aku baru tau ada FLP Medan. Tadinya aku juga ingin masuk FLP, tapi sekarang keinginan itu menguap entah kemana. Mungkin karena aku punya masalah pribadi dengan salah satu personilnya di Bandung. Tak perlu kuceritakan disini. Dari obrolan itu juga aku tau bahwa si Suci itu orangnya rame. Nggak jaim.

Lalu aku iseng lagi nanya ke Suci, “setelah kuliah mau kemana Ci?” tanyaku

“ nunggu lamaran “ katanya. Kalo konteksnya ngelamar kerja, brarti nggak pake kata nunggu donk? Dan bukan begitu struktur kalimatnya. Ya nggak?

“ HAH, APA?” kaget juga aku mendengarnya. Tapi kuulangi lagi pernyataannya dan kuganti jadi pertanyaan. “Menunggu lamaran?” tanyaku. Dia ketawa. Dia bilang “Nggak..nggak..becandaaa..”

“ kenapa harus menunggu?” tanyaku. Kuulangi lagi pertanyaanku. “kenapa akhwat harus selalu menunggu?” lalu kutambahi lagi “kenapa nggak menunjuk duluan?”

Terus dia bilang..”malu lah!” sambil ketawa.

Aku juga ketawa. Aku pengen bilang bahwa proses pernikahan Rasulullah dengan Khadijah aja dimulai dari ke-proaktif-an Khadijah yang mencari tahu tentang Muhammad, lalu meminta pamannya untuk melamarkan Muhammad untuknya. Begitu kan yang dilakukan Ummul Mukminin Khadijah?

Tapi yang keluar malah.. “kayak Aisha di film ayat-ayat cinta..yang duluan kan Aishanya?” aku juga bingung kenapa jadi kalimat itu yang keluar ya? Padahal aku nggak ngefans-ngefans amat tuh sama filmnya. Kalo sama novelnya sih iya..aku udah khatam 6kali baca novenya! hahaha.. 

***

Obrolan itu berlanjut. Si Suci bilang begini..”Uci ga terlalu sreg kalo harus lewat MR..” dan di aminkan sama Nisa. Kalau si Nisa, aku nggak meragukan lagi. Dia itu satu spesies denganku. Pembangkang sejati!

Lalu opini kami pun berloncatan mengenai proses pra nikah yang lewat jalur negri (via pembina) atau lewat  jalur swasta (non via pembina).

“ iya..masak harus lewat MR, kan yang mau nikah kita..”

“ kalo yang ditawarin sama MR ga sreg, masak harus diterima juga..?”

“nanti kalo nggak lewat MR pasti di bikin ribet urusannya..”

Dan banyak banget komentar-komentar mereka yang intinya nggak sepakat dengan jalur negri. Tak lama kami ngobrol, si Yudi, sang tuan rumah ikut nimbrung ngobrol dengan kami jadi makin rame dah! Si Yudi ngasi contoh lain ; ada seorang ikhwan yang menunjuk seorang akhwat. Sang pembina kurang setuju. Karena calonnya nggak dari dia. Lalu si ikhwan nantangin si pembina “apa alasan saya untuk menolak dia? Agamanya bagus, keturunan baik-baik, cantik nggak ada alasan kan?” si pembina Cuma diam.

Aku Cuma mendengarkan mereka ngasi komentar sambil sesekali ngasi komentar juga yang intinya mengiyakan komentar –komentar mereka. Kemudian si Suci nanya..”kalau ada temen yang nawarin, trus gimana bang? Masalahnya Uci lebih sreg kalau ditawarin dari temen.”

Aku jawab aja “yaa..kalo emang mau gitu, udah aja setelah dari temen, langsung ke orang tua. Baru nanti kasi info ke MR. Ini calon dari orang tua..” si Suci ngangguk-ngangguk. Ditambah lagi sepulang dari acara itu, saya dapat SMS dari seorang teman, kakaknya mau proses dengan seorang ikhwan. Pembina kakaknya sudah setuju. Tapi masalahnya ada di pembina si ikhwan. Kelihatan banget dia melambat-lambatkan dan mengulur-ulur proses itu. Padahal orang tua mereka udah sama-sama setuju. Sehingga sekarang si Akhwat bingung, si Ikhwan itu serius nggak sih?

Atau kasus lain. Seorang ikhwan dan akhwat yang berproses tak melewati jalur pembina (lewat teman/ortu), si pembina tak mau mengurusi prosesnya, bahkan tak mau hadir saat diundang ke pernikahan binaannya. Lebih parahnya dia jadi provokator supaya binaannya yang lain tak hadir di acara nikahan itu. Di boikot istilahnya. (padahal setahu gue yang diboikot itu kan Cuma produk Amerika dan Israel ya?)

Begitu deh fenomena yang ada di kalangan para pembina itu, saat akan menikah, si binaan harus bin wajib ikut aturan pembina. Dengan alasan “ini manhaj jama’ah!” padahal entah kapan masyaikh da’wah ini membuat aturan seperti itu. Ustadz Hilmi saja pernah bilang langsung “kapan pula saya pernah mengajari bahwa kalau nikah harus lewat MR?” lha, kalo bos nya aja bilang gitu, siapa pula orang sok tau itu???

Mereka (para pembina) seolah-olah sudah memiliki hidup sang binaan sepenuhnya. Mengalahkan hak milik yang dimiliki oleh orang tua. Padahal paling lama dia membina sang binaan 5tahun. Sedangkan orang tua itu sudah membina sejak dalam kandungan!!! Lalu dimana sisi kepemilikan sang pembina tadi dibandingkan orang tua??

Okelah. Mungkin mereka adalah para asatidz yang memberikan ilmu bagi para binaannya. Mereka para pembina dan pembimbing menuju Allah lewat jalan Da’wah yang mulia. Kita nggak menafikan itu. Kita sadar sepenuhnya bahwa mereka adalah jembatan hidayah dari Allah menuju kita. Mereka adalah contributor terbesar sehingga kita jadi seperti sekarang ini. Oke, kita terima itu. Tapi untuk urusan kehidupan pribadi, nikah misalnya, apa mereka perlu meng-intervensi kita sampai 100%. Nggak kan? Yang mau nikah kan kita!

Lagian, seorang ustadz pernah bilang “Para pembina itu seperti nggak tau syariat saja. Yang jelas jadi wali itu kan orang tua, yan berhak menikahkan anaknya. Kalau orang tua sudah setuju, kenapa harus dihalang-halangi? ”

Apalagi sampai nggak hadir dan memprovokasi orang lain supaya nggak hadir di acara nikahan orang yang di boikot itu. Aneh kan? Salah satu kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lainnya kan ; menghadiri undangan dari saudaranya. Iya kaaan?? Itu yang diajarkan setiap pekan kan? Lalu dimana semua materi itu?

Jadi, menurutku Cuma ada 1 penyebab utama masalah klasik ini terus berulang :

Ilmu & pemahaman yang tanggung dari para pembina. Dan itu fatal akibatnya. Ini akibatnya :

          Sehingga mereka hanya meniru apa yang sudah dilakukan oleh para seniornya. Kalau seniornya bilang “kader militan itu kalau pilih calon isteri/suami harus tutup mata! Biar ikhlas. Memangnya kalo udah merem pasti ikhlas? Terus kalo dia nggak bisa sayang sama isteri/suaminya nanti salah siapa? Kan merem waktu milihnya.

          Kalo terus terjadi seperti itu, para pembina bisa-bisa buat dalil baru. Atau bikin syariat baru. Kalo nggak ada orang tua atau wali, bisa digantikan sama pembina untuk ijab qabul. Lucu kan?

          Bakalan banyak orang yang terzholimi karena aturan-aturan yang nggak jelas juntrungannya itu. Mereka tertunda terus untuk menikah,sedangkan umur terus nambah.

          Dan mungkin antum punya jawaban sendiri…   

Terakhir aku bilang sama Suci, ” kalau pun kita nggak mau dipilihkan sama MR, sebaiknya kita serahkan proses nya pada MR..gimanapun juga, kita adalah satu keluarga besar..”

 Dan yang namanya keluarga, sebaiknya satu masalah anggota keluarga ikut dirasakan sama anggota keluarganya yang lain. Apalagi kepala keluarga. Dia harus tau apa aja yang terjadi sama anak-anaknya. Begitu kan?

Jadi kayaknya nggak boleh ada pemaksaan di dua jalur itu. Yang mau jalur swasta silakan. Selama masih menghargai jalur negeri. Ingat kita satu keluarga! Yang mau jalur negeri, tafadhol, selama kalian menggunakan ilmu dan kesadaran penuh untuk memilih. Oya, milih fotonya jangan merem! (yang swasta juga sih!) dan bukan sekadar AMS (Asal MR Senang). Ingat, ente yang mo nikah. Dan itu akan berlangsung sampai ente diajak jalan-jalan sama malaikat Izrail. Suatu hari nanti. Bukan sebulan dua bulan ente mau nikah. Tapi selamanya!

So, Jalur swasta atau jalur negeri ? it’s All up to You! 

 

NB: Ehm..Sorri ya buat para Pembina yang membaca dan merasa tersindir dengan tulisan ini. Atau yang nggak sepakat dengan ide ini. Gue hanya ingin mengembalikan suatu masalah pada asholahnya. Sehingga kita nggak jadi orang yang berlebihan. Innallaha laa yuhibbul mu’tadiin..

Sekali lagi sorry very much much hota hay (maksudnya kuch kuch hota hay-judul film india- red) hehehee…