CINTA TANPA SYARAT

3 10 2008

CINTA TANPA SYARAT
Action & Wisdom Motivation Training

by : Andrie Wongso

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, “Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar.”

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. “Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,” kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. “Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan’. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,” kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, “Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita.” Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. “Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi…. kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.”

Nenek segera menimpali, “Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua.”

Pembaca yang budiman,
Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso
http://www.andriewongso.com

Iklan




Pursuit of Happiness

27 09 2008

Pursuit of Happiness

by: Arief

Pernah nonton judul film di atas? Kalau belum, saya sarankan untuk menontonnya. Film ini diinspirasi dari sebuah buku dengan judul yang sama; Pursuit of Happiness. Film ini diperankan oleh Will Smith sebagai Chris Gardner.

Chris Gardner adalah seorang pria kulit hitam, penjual salah satu alat kedokteran. Setiap hari dia membawa-bawa kotak-kotak besar alat kedokteran itu untuk dijual ke rumah sakit. Tapi itu pula yang membuat ia dan isterinya bertengkar. Kotak-kotak besar itu tak mampu menghasilkan uang yang cukup untuk keluarganya. Sampai akhirnya isterinya pergi meninggalkannya, dan Chris harus merawat anaknya seorang diri. Persoalan hidupnya belum berakhir, setelah itu ia harus rela diusir dari rumah kontrakannya karena tak mampu membayar uang kontrakan.

Ia bersama anak laki-lakinya sampai tidur di toilet di sebuah stasion kereta karena tak memiliki tempat tinggal. Sekali waktu ia tinggal dengan para homeless lainnya, sambil terus menjual kotak-kotak besarnya. Masalah hidup seolah tak berhenti mengejarnya. Ia harus kehilangan kotak-kotak besarnya, dan mengejar-ngejar pencurinya. Walaupun akhirnya ia berhasil mendapatkannya.

Perjuangan hidupnya terus berjalan, ia harus berlari-lari dari kantor polisi mengejar waktu demi mendapat wawancara di sebuah kantor pialang saham. Hingga akhirnya dengan perjuangan kerasnya, ia berhasil menjadi salah satu pialang saham terkaya di Amerika.  Ia berhasil menjadi jutawan dan CEO sebuah perusahaan stockbroker ternama di Amerika yaitu Christopher Gardner International Holdings dengan kantor yang kini tersebar di New York, Chicago, and San Francisco.

Saya bukan sekadar ingin me-review film ini. Atau ingin mempromosikan film ini. Apa untungnya buat saya? Saya ingin menunjukkan pada antum untuk melihat dengan jelas. Sebuah kebahagiaan itu takkan pernah datang dengan sendirinya. Tapi ia harus dikejar. Ia harus diusahakan.

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menjadi saksi ketika Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Saya saksi dari salah satu calon yang akhirnya berhasil menang menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur. Ini bukan cerita tentang pemilihan gubernurnya. Ini cerita tentang saksi dari calon pasangan cagub lain yang duduk di sebelah saya. Namanya Aldi. Sepanjang waktu pencoblosan, kami bercerita tentang banyak hal. Mas Aldi banyak bercerita tentag pengalaman hidupnya.

Pengalaman hidup yang luar biasa. Pengalaman hidup yang diceritakannya, menurut saya jauh lebih dramatis daripada Chris Gardner itu. Mas Aldi pernah menjadi seorang pialang saham juga rupanya. Persis seperti Chris Gardner. Ia sudah mencapai puncak karirnya waktu itu. Punya mobil, punya rumah, barang-barang mewah dan lain sebagainya. Ia sudah sangat bahagia waktu itu dengan segala ketercukupannya.

Hingga suatu hari antara tahun 1997an, krisis ekonomi melanda Indonesia. Banyak perusahaan yang bangkrut. Dan ia jadi salah satu korbannya. Semua harta yang dimilikinya musnah. Ia bangkrut dan jatuh miskin. Salah satu temannya yang juga jatuh miskin bahkan sampai loncat dari jembatan penyebrangan, bunuh diri karena stress. Sejak itu ia menjalani profesi barunya sebagai gembel. Tidur di kolong jembatan, makan seadanya. Keluarganya yang mengetahui itu prihatin juga. Ia disuruh menempati rumah kosong milik pamannya. Setiap bulan ia mendapat jatah sekarung beras dari pamannya itu. Tapi hanya beras. Untuk lauknya ia harus mencari sendiri. Coba tebak apa yang menjadi lauknya? Kebetulan di depan rumah itu ada pohon belimbing. Dan..selama sekitar 3bulan ia makan nasi dengan belimbing sebagai lauknya!

Tapi ia sadar ia harus berbuat sesuatu. Lalu ia mulai merangkak kembali meraih masa depannya. Segala jenis pekerjaan dilakukannya. Sampai saat ia menceritakan cerita ini ia sudah punya sebuah perusahaan property bersama teman-temannya, dan satu buah Event Organizer.

“kalau saja saya tidak ingat punya iman waktu itu, saya sudah jadi penjahat sekarang!” katanya waktu itu. Saya tercenung mendengarnya. Persis seperti yang pernah dikatakan Rasulullah, “kefakiran itu sangat dekat kepada kekufuran.”  

Kebahagiaan itu takkan pernah datang dengan sendirinya. Ia harus diupayakan. Ia butuh keringat yang menetes, air mata yang mengalir, bahkan darah yang tertumpah.

Saya teringat yang dikatakan Chris Gardner kepada anak lelakinya, “if you have a dream..go get it!”  





Menikmati Proses…

21 09 2008

Menikmati proses…

by : Arief

Seringkali dalam kehidupan kita, kita ‘dipaksa’ untuk menunggu. Meskipun kita semua sepakat, menunggu adalah pekerjaan yang paling dibenci hampir sebagian besar manusia di muka bumi ini. Hanya orang yang punya alasan khusus yang bisa menyukai pekerjaan menunggu. Seorang pelajar yang sedang kelaparan dan menunggu bel pulang sekolah. Seseorang yang menantikan waktu pernikahannya. Seorang panitia yang menunggu ustadz yang akan mengisi acara. Tukang becak yang sedang menunggu calon penumpangnya.

Namun, ada sisi lain dari sebuah penantian yang memang wajib dilalui. Sisi lain itu sungguh wajib dilewati. Meski melewatinya bukanlah suatu pekerjaan mudah. Tapi semua sudah ada aturannya. Penantian itu tetap harus dilalui. Bahkan, jika kita memaksa untuk tak melewati penantian itu. Hasil yang kita nantikan tak akan pernah bisa dibanggakan.

Penantian itu kita namakan sebuah proses. Proses merupakan sesuatu yang mesti dilalui untuk mencapai sesuatu. Proses adalah perjalanan dari A menuju Z. Dari A takkan pernah mungkin bisa langsung mencapai Z, tanpa melewati B,C, D, E, dan seterusnya sampai X,Y lalu Z. Semua dilalui dengan langkah satu per satu. Untuk membuat suatu kata pun, semua harus dilewati dengan langkah yang satu per satu. Misalkan kata PRESIDEN. Untuk membuat kata itu, semua huruf harus disusun satu persatu dengan susunan yang benar. Pertama letakkan huruf P, R, E, lalu S,I kemudian D,E, dan terakhir letakkan huruf N di akhir kata. Semua huruf disusun dengan tepat. Kita tak bisa meletakkan huruf R dulu baru P, atau S dulu baru E. Kalau begitu, semua akan kacau. Dan kita takkan pernah mendapat kata PRESIDEN yang kita inginkan. Dan itu adalah proses.

Begitupun semua yang terjadi di dunia ini. Semua terjadi dengan proses bukan? Dalam satu hari ada satu momentum yang kita namakan Pagi, ada siang, ada sore dan ada malam. Untuk mencapai malam, kita harus rela melewati siang dan sore. Untuk mendapatkan siang, kita harus melewati pagi. Begitu seterusnya.

Coba lihat hujan! Pernahkah kita menyaksikan hujan langsung turun dengan derasnya tanpa memberikan sinyalnya pada kita? Tidak kan? Hujan mengirimkan sinyal mendung, angin, kilat dan terkadang petir sebelum ia turun membasahi bumi. Dan itu adalah proses.

Coba lihat Al Quran! Kitab suci kita itu telah mengajarkan begitu banyak ilmu pada kita. Berapa banyak Al Qur’an bicara tentang proses disana? Dua contohnya adalah penciptaan alam semesta dalam 6 masa, dan penciptaan janin dalam 40 hari menjadi ini, 40 hari menjadi itu. Apakah Allah SWT kurang hebat, sehingga menciptakan sesuatu dengan waktu selama itu?

Lihat bagaimana Rasulullah hidup, dan mengajarkan kehidupannya kepada kita. Apa Rasulullah, manusia hebat itu bisa menjadi begitu hebat dalam satu tepukan tangan? Atau dalam satu teriakan “abracadabra”.  Lalu, ‘crriingg..’ jadilah Rasulullah menjadi manusia yang superhebat. Begitukah? Tidak. Rasulullah telah melalui proses panjang untuk menjadi sehebat itu. Beliau sudah melewati fase-fase wajib yang harus dilewati sebagai syarat untuk menjadi hebat. Beliau dibelah dadanya oleh malaikat dan dibersihkan hatinya. Ikut perundingan politik dengan kakeknya. Ikut bisnis dengan pamannya. Mengembala domba. Ikut berperang. Menjadi negosiator.  Dan fase-fase kehidupan lain yang menjadi proses kreatif pembentukan kehebatan seorang Muhammad SAW.

Apakah sulit bagi Allah menciptakan alam semesta dalam sekali kejapan mata? Apa sulit bagi Allah menciptakan janin dalam waktu seminggu, sehari, atau bahkan sedetik? Apakah sulit bagi Allah menjadikan Muhammad manusia hebat dalam sekali penciptaan? TIDAK. Sama sekali tidak. Allah hanya tinggal bilang “KUN” Jadi! Fa Ya Kun..Maka jadilah. Maka jadilah apapun yang dikehendaki Allah. Allah tidak pernah lama dalam membelah laut merah dan menenggelamkan fir’aun kan? Allah tak pernah lama dalam menenggelamkan Qarun karena kecongkakannya kan? Allah tak pernah lama dalam melenyapkan kaum ‘Aad dan kaum Tsamud. Allah tidak pernah lama dalam membuat Tsunami, dan mengambil ribuan nyawa sekaligus bukan? Jadi tak ada sedikitpun kesulitan bagi Allah untuk melakukan semua itu.

coba liat kembali AlQuran…bahkan untuk statement pelarangan dalam AlQur’an pun, Allah melakukannya dengan cara step by step..selangkah demi selangkah..liat cara ‘cerdas’ Allah melarang khamr (miras). Allah nggak langsung ‘main’ bantai aja kan? Tapi Allah memulainya dengan “..laa taqrobusholaah..wa antum sukaaro..” Allah memulainya dengan.. “Jangan solat kalo lagi mabok!” nah, selanjutnya baru Allah memberi penegasan “JANGAN MABOK!”. Saat Allah memberi penegasan itu, seketika itu juga Mekkah banjir khamr.  Coba bayangkan kalau Allah langsung bilang “JANGAN MABOK!” saat pertama memberi pelarangan khamr. Bisa jadi hasilnya tidak akan maksimal kan?

Ada pelajaran yang ingin diberikan Allah dari Statement itu..

Allah ingin kita menghargai dan menikmati proses!  

Lihat seorang pelukis. Adakah yang membuat lukisan indah, tanpa melalui sapuan kuas pertamanya? Tidak! Ia harus memberi warna ini, warna itu, bentuk ini, bentuk itu. Sehingga akhirnya bisa menjadi lukisan yang ‘hidup’, yang menawan setiap orang yang menatapnya. Dan itu adalah proses.

Coba lihat JK.Rowling, Andrea Hirata, Habiburahman el Shirozy! Apa Harry Potter, Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta tercipta begitu saja? Tidak! Mereka harus melewati proses panjang untuk menjadi seperti sekarang.

Coba lihat pendiri GE, penemu bola lampu pertama, Thomas Alpha Edison. Apa dia menciptakan lampu dengan sekali percobaan? Tidak! Ia menghabiskan begitu banyak umurnya untuk melakukan 9999 kali percobaan, dan semuanya gagal! Berhentikah ia? Tidak! Ia sadar sepenuhnya, bahwa kegagalannya itu adalah sebuah proses. Dan sekali lagi percobaan, ia pun berhasil.  

Coba lihat Bill Gates, manusia yang diklaim punya uang yang jauh lebih besar daripada APBN Republik Indonesia itu. Apa dia mendapatkan kekayaannya seperti hujan yang turun dari langit? Tidak kan? Dia meraihnya dengan keringat dan air mata. Dia mendapatkannya dengan pengorbanan yang luar biasa besar.  

Atau, kalau kita lupa..coba lihat Negara kita tercinta ini. Kemerdekaan yang dulu diraih oleh para pahlawan, apakah begitu saja diberikan oleh para penjajah? Tidak. Para pahlawan itu harus menebusnya dengan keringat, air mata, bahkan darah yang harus tertumpah demi pembebasan tanah air tercinta.

Atau..kita perlu contoh lain? tentang mereka yang masih menikmati prosesnya?

Coba lihat Palestina! Mereka adalah salah satu contoh nyata yang masih menikmati prosesnya. Menikmati proses menuju Palestina merdeka. Tersiksa kah mereka? Sedihkah mereka? Tidak! Mereka sadar dengan sepenuh hati bahwa mereka sedang menjalani dan menikmati proses. Mereka sudah tau hasil akhirnya. Palestina merdeka, dan Israel binasa. Itu kan yang dijanjikan Rasulullah? Jadi tugas mereka sekarang adalah berjuang lebih keras, dan menjemput takdir mereka. Mereka berjuang keras sampai syahid atau…mereka berjuang keras sampai Palestina merdeka. Mereka menjemput salah satu takdir itu.

Nah, sekarang masalahnya, sejauh mana kita menghargai  dan menikmati proses?

Menghargai dan menikmati proses itu berbanding lurus dengan menghargai dan menikmati kerja keras, ketekunan, kreativitas, tangan yang bekerja lebih banyak dari biasanya, mata yang terjaga lebih lama dari biasanya, dan hati yang jauh lebih keras daripada baja. Seperti itulah menghargai proses. Seperti itu juga menikmati proses.

Jadi, sudahkah kita menghargai dan menikmati proses kehidupan kita ?  

 

(beuh! Serius banget yak! Udah kayak Anis Matta aja gue. Yang bikin menikmati demokrasi. J)

***

 





Bercermin dari anak-anak Intifadhah…

17 09 2008

Bercermin dari anak-anak Intifadhah…

 

 

Ramallah – Infopalestina: Pada saat kelompok usia anak-anak di seluruh dunia mengalami kebebasan dan ‘dimanjakan’ karena dianggap tulang punggung masa depan, serdadu penjaja Israel justru terus menangkapi ratusan anak-anak Palestina menjebloskannya dalam penjara. Israel menolak kesepakatan internasional apapun soal ini.

Lembaga Waid untuk Tahanan di Palestina menegaskan, pemerintah penjajah Israel pernah menangkap dan menahan lebih dari 3500 anak sejak Intifadlah. Kini mereka masih menahan 340 yang tersebar di penjara-penjara yang ada. Tujuh di antara mereka anak-anak perempuan yang masih kecil dengan kondisi yang sangat memperihatinkan. Jumlah itu terbagi sebagai berikut; 104 anak di penjara Talmud, di Auvar 80 anak , di Naqab 38 anak, di Magedo 45 anak, dan sisanya di pusat-pusat investigasi Israel. Disamping itu adalah 312 anak yang sudah divonis dengan hukuman dan 107 masih menunggu vonis dan 10 anak ditahan dengan status tahanan adimistrasi.

27 dari mereka berusia 15 tahun kurang, dua tahanan belum berusia 13 tahun, 150 ditahan sebelum usia 18 tahun dan 99 persen mereka mengalami siksaan minimal kepalanya dibungkus kantung, dipenteng dan dipukul.

Secara resmi Israel membolehkan menangkap anak di bawah umur 16 tahun. Ini bertentangan dengan konvensi internasional pasal 1.

Lembaga Waid menegaskan bahwa Israel tidak memperhatikan kesehatan anak-anak Palestina yang mereka tahan. Semua penyakit yang dialami oleh tahanan Palestina diobati dengan Akamol.

Kondisi yang dialami oleh anak-anak tahanan Palestina itu sangat memperihatinkan sebab bertentangan dengan konvensi internasional berupa kurangnya makanan, pakaian, kebersihan, banyaknya serangga, penuh sesak, tidak ada tempat mainan dan menghibur, diisolasi dari dunia luar, dilarang dikunjungi oleh keluarga dan lain-lain. Ini bertentangan dengan undang-undang internasional perlindungan anak di pasal 16.

Dua bulan lalu seorang anak Palestina berusia 17 tahun ditangkap Israel dari rumahnya dengan ditutup matanya dan dibawah ke permukiman Maalih Admim. Di sana ia disiksa dengan ditampar wajahnya berkali-kali hingga tersungkur ke tanah. Kemudian Israel memukulinya dengan tongkat. Hal ini berlangsung hingga berjam-jam.

Lebih dari itu, wajah itu kemudian distrum dengan listrik hingga wajahnya gosong yang membekas hingga sekarang. Tidak sampai di situ, Israel mengancam akan melepaskan anjing galak kepadanya. Ketika anak itu menyatakan sakit, seorang serdadu Israel memukul kakinya.

Lembaga Waid meminta kepada Organisasi Anak milik PBB (UNECEF) dan Palang Merah Dunia serta lembaga HAM lainnya untuk bertanggungjawab atas kondisi anak-anak yang ditahan Israel yang bertentangan dengan kesepakatan Jenewa IV. Lembaga Meminta agar masalah pembebasan tahanan Palestina dari penjara Israel menjadi prioritas. (bn-bsyr)

 

***

Hmm…gimana? Ada komentar? Yang jelas, aku melihat ketimpangan yang begitu besar antara anak-anak Palestina dengan anak-anak Indonesia. Di Indonesia, anak-anak kecil dibesarkan dengan fasilitas yang lengkap (meskipun ada juga yang terbatas), dibesarkan dengan cukup cinta dan kasih sayang orangtuanya. Dibesarkan dengan keindahan dan kenyamanan.

Tapi, di belahan dunia yang lain, di Palestina sana, kondisinya berbeda 180°. Anak-anak Palestina itu hidup dengan keterbatasan yang sangat mereka sadari. Mereka pun menyadari sepenuhnya, mereka takkan pernah lagi mendapat cukup cinta dan kasih sayang dari orangtuanya. Karena kedua orangtuanya telah lama syahid diterjang peluru-peluru Israel. Atau mungkin telah lama mendekam di dingin dan kejamnya penjara-penjara Israel. Dan mereka pun sangat sadar bahwa hidup mereka sama sekali tak indah dan tak nyaman.

Hari-hari mereka dipenuhi ancaman dan terror. Menghindari peluru-peluru yang ditembakkan dari laras panjang serdadu-serdadu Israel La’natullah ‘alaih. Menghindari tangkapan tentara Yahudi itu. Gentarkah mereka?

 Jawabnya TIDAK!

Mereka lebih khawatir kalau mereka tertangkap. Bukan! Mereka bukan takut tertangkap karena takut disiksa. Sama sekali bukan. Bahkan mereka lebih menginginkan mati daripada harus tertangkap Israel. Mereka tak ingin tertangkap karena kalau mereka tertangkap, mereka akan tidak produktif lagi. Mereka tak akan produktif lagi melawan tentara-tentara Yahudi itu. Mereka takkan lagi bisa melukai dan membunuh tentara Yahudi itu dengan lemparan batu dan molotovnya. Karena mereka ada di balik jeruji. Mereka lebih memilih mati. Karena dengan begitu, mereka akan jadi motivator dan inspirator utama bagi kawan-kawannya yang lain.

Sedihkah mereka ketika ada kawannya yang mati?

Jawabnya TIDAK!

Mereka justru sangat senang. Karena Syahid bagi mereka adalah segelas jus jeruk dingin di tengah terik padang pasir. Sesuatu yang jauh lebih berharga daripada segudang emas sekalipun.

Antum mungkin pernah melihat film tentang pengorbanan anak-anak Palestina dengan darah (saya lupa judul aslinya…) ya pokoknya itulah. Ada seorang anak yang diwawancarai tentang syahidnya Faris Audah, salah satu temannya. Terus dia Cuma bilang ”Alhamdulillah, Allah telah mengaruniainya kesyahidan..”

Sama sekali nggak ada kesedihan disana. Hanya kalimat syukur yang terlontar dari bibirnya. Mereka senang karena salah satu temannya sudah resmi jadi salah seorang penduduk surga. Sedangkan mereka masih menunggu-nunggu gilirannya.

Begitulah, meskipun ketidakenakan yang ada pada mereka, tapi mereka menyadari bahwa begitulah jalan hidup yang ditakdirkan Allah. Dan mereka sangat bersyukur dengan itu.

Saya jadi teringat salah seorang sahabat di zaman Rasulullah. Namanya Usamah bin Zaid. Usianya belum lagi genap 18tahun. Tapi prestasi yang ditorehkannya melebihi orang-orang yang berusia jauh lebih tua darinya. Di usia belia seperti itu, Zaid sudah dipercaya memegang amanah sebagai panglima perang dengan ribuan pasukan yang sangat loyal.

Sepertinya saya harus mengambil kesimpulan. Ternyata kondisi kehidupan keseharian, berpengaruh banget pada p

embentukan karakter kita. Coba lihat anak-anak Palestina itu. Diusia sangat belia mereka harus menanggung beban hidup yang luarbiasa berat. Sehingga mereka dipaksa berpikir keras, berpikir cerdas, berpikir dewasa, supaya mereka bisa menggapai cita-cita mereka; Palestina merdeka, atau syahid lalu masuk Surga. Sederhana kan? Dan terbukti, mereka mampu menunjukkan pada dunia, dengan kondisi tertekan seperti itu mereka masih bisa melawan. Secara fisik atau secara intelektual. Jangan kira tak ada orang berpendidikan di Palestina sana!

Justru, dari informasi yang saya dengar, Palestina termasuk penyumbang Doktor paling banyak di timur tengah. Hebat kan? Dengan kondisi tertekan seperti itu, mereka bahkan bisa membuat rudal sendiri,dengan segala keterbatasan Sumber daya. Mengharapkan bantuan dari luar untuk bikin rudal? Mustahil. Jangankan bahan-bahan untuk bikin rudal, makanan saja diisolir oleh Israel.

Sekarang, coba liat anak-anak Indonesia! Anak-anak Indonesia terlalu banyak dijejali kartun, playstation, sinetron, sampai infotainment yang jelas tak layak untuk mereka konsumsi. Berapa banyak yang sadar bahwa hidup adalah perjuangan. Tak ada! Karena orangtuanya pun tak pernah mengajari mereka untuk itu. Kalaupun ada yang menyadari bahwa hidup adalah perjuangan, maka mereka pasti sudah berumur lebih dari 20 tahun.

Sehingga wajar saja, kalau anak-anak Indonesia begitu lambat perkembangan kedewasaannya. Saya tak hendak menyalahkan keadaan. Kondisinya memang sudah diatur dari sananya. Allah memang menakdirkan anak-anak Palestina untuk lebih cepat dewasa, lebih cepat matang, lebih berani dan seterusnya. Dan anak-anak Indonesia kebalikannya. Tapi bukankah kita tak boleh menyerah pada keadaan?

Minimal bagi diri kita sendiri. Ketika punya anak nanti, ajari anak kita untuk jadi seperti anak-anak Intifadhah itu. Ajari anak kita untuk berani menunjukkan prestasinya pada dunia. Sehingga ketika beranjak dewasa nanti, mereka akan jadi Usamah bin Zaid yang baru,Izzzudin Al Qossam, Abdullah Azzam, Faris Audah,Imad Aqil, Yahya Ayyash, AR-Rantisi, Hasan AlBana, dan seluruh pejuang Islam yang berhasil menorehkan tinta sejarah kepahlawanan mereka pada lembar sejarah umat manusia.

Gimana, sudah siap?     





DOA SANG JENDERAL

14 09 2008

DOA SANG JENDERAL   

by : Andrie wongso

Pada masa Perang Dunia Kedua, tepatnya bulan Mei 1952, seorang jenderal kenamaan, Douglas Mac Arthur, menulis sebuah puisi untuk putra tercintanya yang saat itu baru berusia 14 tahun. Puisi tersebut mencerminkan harapan seorang ayah kepada anaknya. Ia memberi sang anak puisi indah yang berjudul “Doa untuk Putraku”. Inilah isi puisi tersebut:

Doa untuk Putraku

Tuhanku…

Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan

Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan

Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan

Bentuklah putraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja

Seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan

Biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain

Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka

Putra yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah

namun tak pernah melupakan masa lampau

Dan, setelah semua menjadi miliknya…

Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati…

Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…

Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Pembaca yang budiman,

Puisi yang ditulis oleh Jenderal Douglas MacArthur tersebut merupakan sebuah puisi yang luar biasa. Puisi itu adalah sebuah cermin seorang ayah yang mengharapkan anaknya kelak mampu menjadi manusia yang ber-Tuhan sekaligus mampu menjadi manusia yang tegar, tidak cengeng, tidak manja, dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Seperti contoh sepenggal puisi di atas yg berbunyi: “Janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.” Puisi ini menunjukkan bahwa sang jenderal sadar tidak ada jalan yang rata untuk kehidupan sukses yang berkualitas.

Seperti kata mutiara yang tidak bosan saya ucapkan: “Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda.”

Untuk itu, jangan kompromi atau lunak pada sikap kita yang destruktif, merusak, dan cenderung melemahkan. Maka, senantiasalah belajar bersikap tegas dan keras dalam membangun karakter yang konstruktif, membangun, demi menciptakan kehidupan sukses yang gemilang, hidup penuh kebahagiaan!!

Selamat berjuang!!!





KELINCI SI PENAKUT

14 09 2008

KELINCI SI PENAKUT   

by : Andrie wongso

Kelinci memang dari dulu terkenal sebagai hewan yang bernyali kecil, sering ketakutan tanpa alasan yang jelas, sesegera mungkin menyingkir bila dia merasa terganggu keamanannya.

Suatu hari, terlihat sekelompok kelinci sedang berkumpul di tepi sebuah sungai, mereka sibuk berkeluh kesah meratapi nyalinya yang kecil, mengeluh kehidupan mereka yang senantiasa dibayangi dengan mara bahaya. Semakin mereka ngobrol, semakin sedih dan ketakutan memikirkan nasib mereka.

Alangkah malangnya lahir menjadi seekor kelinci. Mau lebih kuat tidak punya tenaga, ingin terbang ke langit biru tidak punya sayap, setiap hari ketakutan melulu. Mau tidur nyenyak pun sulit karena terganggu oleh telinga panjang yang tajam pendengarannya sehingga matanya yang berwarna merah pun semakin lama semakin merah saja.

Mereka merasa hidup ini tidak ada artinya. Daripada hidup menderita ketakutan terus, mereka berpikir lebih baik mati saja. Akhirnya mereka mengambil keputusan beramai-ramai hendak bunuh diri dengan melompat dari tepian tebing yang tinggi dan curam. Maka para kelinci terlihat berbondong-bondong menuju ke arah tebing.

Saat mereka melewati pinggir sungai, ada seekor katak yang terkejut melihat kedatangan kelinci yang berjumlah banyak. Tergesa-gesa si katak ketakutan dan segera meloncat ke sungai melarikan diri.

Walaupun si kelinci sering menjumpai katak yang melompat ketakutan saat melihat kelinci melintas, tetapi sebelum ini mereka tidak peduli. Berbeda untuk kali ini. Tiba-tiba ada seekor kelinci yang tersadar dari kesedihannya dan langsung berteriak, “Hei, berhenti! Kita tidak usah ketakutan sampai perlu harus bunuh diri. Karena lihatlah, ternyata ada hewan lain yang lebih tidak bernyali dibandingkan kita yakni si katak yang terbirit-birit saat melihat kita!”

Mendengar kata-kata itu, kelinci yang lain tiba-tiba pikiran dan hatinya terbuka, seolah-olah tumbuh tunas keberanian di hati mereka. Maka dengan riang gembira mereka mulai saling membesarkan diri masing-masing, “Iya, kita tidak perlu ketakutan!”

“Tuh kan, ada mahluk lain yang lebih pengecut dari kita.”

“Iya, kita harus semakin berani.”

Perlahan-lahan mereka berbalik arah kembali kearah pulang dengan riang gembira dan melupakan niatnya untuk bunuh diri.

Pembaca yang budiman,
Saat keberuntungan sedang tidak memihak kepada kita, jangan suka meratapi nasib yang dirundung malang seakan-akan hanya kitalah mahluk paling menderita di muka bumi ini. Lihatlah di sekeliling kita. Masih begitu banyak orang yang lebih susah, sengsara, dan sial dibandingkan kita. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan tetapi mampu menjalaninya dengan tegar dan tetap berjuang, kenapa kita tidak?

Apa pun keadaan kehidupan kita hari, seharusnya kita jalani dengan optimis dan aktif. Nasib tidak akan dapat kita ubah tanpa manusia itu sendiri yang siap mengubahnya. Karena sesungguhnya, ‘sukses adalah hak setiap orang’. Success is my right, sukses adalah hak siapa saja yang mau berjuang dengan sungguh-sungguh.

Salam sukses luar biasa!!!





SAATNYA BANGKIT!!!

14 09 2008

SAATNYA BANGKIT!!!
by : Andrie Wongso

Tanpa terasa, seratus tahun sudah, kita memperingati Hari Kebangkitan Bangsa. Sebuah hari yang mengingatkan kita pada cita-cita besar untuk mempersatukan bangsa. Cita-cita itu dimulai dari sebuah perkumpulan pemuda yang didirikan oleh Dr Soetomo, tepatnya pada 20 Mei 1908 silam. Di bawah penjajahan Belanda, para pemuda tersebut mempunyai cita-cita luhur, demi memikirkan nasib bangsa yang kala itu sangat buruk, selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain.

Kini, seratus tahun kemudian, setelah hampir 63 tahun kita merdeka, kita perlu kembali menanyakan makna Hari Kebangkitan Bangsa tersebut. Sebab, hingga kini, cita-cita tersebut sepertinya masih harus terus diperjuangkan. Apalagi, sejak era krisis moneter yang-bisa dikatakan-belum pulih sepenuhnya. Kita juga perlu bertanya, apakah dalam masa kepemimpinan enam presiden yang berbeda, telah mengantarkan kita pada era kebangkitan yang sebenarnya?

Satu abad bukanlah masa yang singkat dalam hitungan waktu. Namun, untuk sebuah perjuangan, nampaknya waktu satu abad berlalu dengan cepat. Karena itulah, tepat kiranya jika momen seratus tahun Kebangkitan Nasional ini kita jadikan sebagai sarana refleksi diri dan bangsa. Inilah saatnya menghadirkan kembali ruh dan jiwa kebangsaan Indonesia dalam diri dan pribadi masing-masing.

Seperti yang dicita-citakan Organisasi Boedi Oetomo, yakni keinginan menyatukan para pemuda dalam sebuah organisasi yang terbuka dan tidak berdasar kelompok tertentu, maka selayaknya kita juga perlu menjadikan persatuan sebagai dasar penyemangat untuk bangkit, sejajar dengan negara-negara lain di dunia. Sebab, hanya dengan memosisikan diri sejajar dengan bangsa lain, kita akan mampu menunjukkan jati diri dan kebesaran Indonesia sebagai sebuah bangsa yang kaya, baik kaya Sumber Daya Alam, maupun manusianya.

Maka, adanya semboyan adiluhung, Bhinneka Tunggal Ika-berbeda-beda, tetapi tetap satu- adalah sebuah simbol kekayaan bangsa, yang perlu kita pupuk untuk menjadi solusi kebangkitan bersama. Hanya dengan persatuan dalam kebersamaan, kita mampu membangun kembali harga diri bangsa. Dengan semangat tersebut, kita akan dapat mengenali kelemahan dan kekurangan, sehingga bisa dijadikan sarana evaluasi untuk mengembalikan harkat dan martabat kita.

Mari, secara tegas dan tuntas, kita buang semua hal negatif, seperti disintegrasi, ketidakdisiplinan, ketidakpercayaan diri, kemalasan, keengganan belajar, dan semua sifat serta sikap yang hanya akan membelenggu kita pada keterpurukan. Tentu, ini membutuhkan kerja bersama dari semua pihak. Kita hilangkan sifat saling menyalahkan dan kita ganti dengan sikap saling dukung dan dorong demi membangun kemajuan bersama.

Kita tumbuhkan kekayaan mental untuk membuktikan bahwa sukses juga adalah hak bangsa kita. Success is my right!!! Dengan semangat seratus tahun kebangkitan bangsa, kita bangun kembali ruh dan jiwa sebagai bangsa Indonesia yang satu. Tak perlu menunggu instruksi dari atasan, tak perlu mencari-cari penghargaan, kita buktikan dengan tindakan nyata, Indonesia akan segera bangkit, sejajar dengan bangsa lain di dunia.

Salam sukses, luar biasa!!!