Mengapa saya (mungkin) tidak akan menyekolahkan anak ke sekolah formal???

9 05 2010

Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya, jika tulisan ini akhirnya akan jadi kontroversi (dan memang itu yang diharapkan..hehe) dan boleh jadi akan menyinggung kalangan tertentu. Saya sama sekali tak bermaksud menyinggung. Saya hanya mencoba mengkritisi dan mudah-mudahan saja tulisan ini mampu memberi solusi.

Tulisan ini mungkin hanya sekadar ungkapan hati pribadi. Setelah sekian lama mengamati fenomena pendidikan di negeri tercinta ini. Jadi kalau tulisan ini dianggap radikal dan dianggap provokasi dan penghinaan terhadap negara ini, itu salah besar. kalau provokasi mungkin iya. Tulisan ini semoga bisa memprovokasi hehe..memprovokasi agar kritis kepada segala hal yang perlu dikritisi. Tapi kalo penghinaan? weiss sori cuyy..gw cinta banget negeri ini. Ngga mungkinlah gw hina.

Semua bermula saat saya SMP. Saya mulai memikirkan pendidikan di negara ini, sepertinya ada yang aneh. Sistem pendidikan,metode, guru, aturan dan sebagainya.
Pikiran itu terus terakumulasi hingga detik ini. membola salju. menggelinding dan semakin besar. Entah sampai kapan bola salju ini akan berhenti.mungkin saat membentur gunung besar, dan pecah menyerpih.

Baiklah. Saya mulai. Tulisan ini akan panjaaaaangg banget. Jadi saya mohon maaf kalau sekiranya saya men’tag’ tulisan yang bersambung-sambung. Mohon maaf juga kalau tag saya pada orang yang salah. Silakan tulis pada wall saya, “mas/om/bro/cuy/mbah…tol

ong jangan racuni pikiran saya dengan tulisan gilamu itu. Kalo sinting, sinting sendiri aja..jangan ngajak-ngajak!!! ”
hehe..silakan tulis seperti itu. Saya ngga akan marah kok. bener, sumpah. berani disamber geledek bareng-bareng. wuahahaaa

ALASAN PERTAMA…. :

Sebagai orang tua yang normal, saya menyayangi anak saya. Saya bisa menjamin tidak akan bisa menahan diri kalau ada orang yang menyakiti anak saya dengan SENGAJA. Saya bisa pastikan orang itu menginap di rumah sakit. Berapa lama dan berapa parah cideranya tergantung dia menyakiti anak saya seperti apa.

bapak,om,sahabat,tante,kakak,abang,akang,mas, dll bisa lihat seberapa parahnya guru-guru killer di negeri ini. Saya termasuk orang yang masih menyimpan dendam pada guru-guru yang pernah menampar,memukul, mencubit,menjambak saya dengan alasan saya membuat kesalahan. (Saya berusaha sekuat tenaga menghilangkan dendam itu).

Seberapa berat sih kesalahan yang pernah saya lakukan? saya nggak pernah kencing di kantor kepala sekolah. saya nggak pernah memaki-maki guru (karena saya sangat menghormati guru-guru yang menunjukkan dirinya sebagai guru yang pantas dihormati)saya nggak pernah membakar mobil kepala sekolah. saya nggak pernah coret-coret foto presiden dan wakil presiden. Karena saya tau mereka sudah susah payah untuk tersenyum di foto itu.
paling berat kesalahan saya nggak bikin PR. ngobrol waktu guru lagi ngejelasin.nyanyi nyanyi di bangku belakang kelas pas ujian. cuma itu kok! APA DENGAN KESALAHAN ITU SAYA PANTAS DI TAMPAR?? DIJAMBAK, DIPUKUL???????

Orang tua yang menghidupi saya dari kecil, yang memberi makan saya saja tak pernah memukul saya. Lalu siapa guru-guru itu berani memukul saya??
sebagai bukti, silakan ketik di google, ” kekerasan guru terhadap murid”, anda akan temukan begitu banyak fakta tentang ini.

Ketika SMA saya hampir melemparkan meja ke guru sejarah. Pasalnya ada seorang muslimah teman saya yang dijewer oleh guru sinting itu. Lalu teman saya itu melawan karena ia merasa ngga membuat kesalahan. Eh,guru itu malah marah-marah dan bawa-bawa agama (dia non muslim). Saya sempat berpikir akan membalikkan meja di depan saya ke muka guru itu kalau dia sempat memukul teman saya dan menghina agama saya. Saya nggak akan pernah melupakan kejadian itu.

Saya pikir ini hanya terjadi di sekolah umum saja. dan bukan pada sekolah dengan label Islam. Ternyata seorang teman saya yang mengajar di salah satu SDIT mengungkapkan fakta ini. Bahwa di sekolahnya mengajar itu sama saja. malah mungkin lebih parah. ada guru-guru yang kalau muridnya melakukan kesalahan langsung main tampar, main siram air. Saya sempat berpikir. apa guru-guru itu nggak punya otak??? atau bahkan psikopat.

Ah, saya nggak mau spekulasi. iya kalau anak saya ketemu dengan guru yang baik-baik di sekolahnya kelak. kalau ketemu dengan guru-guru gila dan psikopat begitu. Wah,bisa bisa saya yang masuk penjara, karena nggak mampu menahan diri. Itu kalau ketahuan sama saya. kalau nggak ketahuan. ternyata anak saya disiksa disekolah, lalu dia tak pernah cerita pada saya, dan dia jadi trauma dan depresi, itu jauh lebih berbahaya lagi.

Jadi, dengan alasan ini, saya berpikir saya (mungkin) tidak akan memasukkan anak saya ke sekolah formal!

BERSAMBUNG ke Alasan Kedua, klik disini :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150179454850294&id=1013933140&ref=mf#!/note.php?note_id=10150179004385294&id=1013933140&ref=mf





My First Online experience

25 07 2009

by : Arief

Ceritanya bermula waktu saya SMP. Tepatnya saya lupa ketika kelas berapa. Saya juga lupa guru saya siapa saja waktu itu. Penyakit lupa saya memang cukup parah. Cukup parah untuk membuat saya lupa dengan tanggal lahir saya. Ya sudah, nggak penting.

Yang saya masih ingat jelas, waktu SMP saya masih tinggal di Medan. Sekitar tahun 1999. Sebuah kota yang panasnya nggak jauh beda dengan Jakarta. Sebuah kota yang pernah mendapat julukan bahwa orang-orangnya dulu pernah ada yang mengkonsumsi manusia. Ya,kamu nggak salah baca kok. Memang orang makan orang! Saya nggak tau pasti apakah ada rumah makan yang menyediakan menu ‘orang goreng’, ‘orang saus tuna’ atau ‘orang semur jengkol’. Jujur, saya memang belum pernah menemukan restoran semacam itu.

Oke..oke, kembali ke topik. Saya nggak ingat pasti, alasan saya mulai berinteraksi dengan internet. Karena, secara gitu Internet belum terlalu terkenal waktu itu. Padahal saya hidup di zaman yang sudah cukup modern kok. Bukan zaman Fir’aun atau zamannya Pangeran Diponegoro masih ABG. Yang pasti, waktu itu saya begitu penasaran ketika pertama kali melihat sebuah rumah yang di depannya ada tulisan ‘Warung Internet’. Setiap sepulang sekolah, ketika naik angkot menuju ke rumah, saya pasti melewati ‘Warung Internet‘ itu. Saya makin penasaran. Waktu itu saya belum punya bayangan sama sekali tentang tempat bernama ‘warung Internet’ itu.

Kata warung saja cukup asing di Medan. Karena orang Medan biasa menyebut warung dengan ‘kedai’. Jadi saya juga kurang akrab dengan kata itu. Yang saya tau, warung itu punya arti yang sama dengan kedai. Tapi, saya makin bingung, soalnya di bayangan saya, yang namanya kedai itu tempat yang menjual banyak barang atau makanan. Tapi di tempat itu, saya nggak melihat ada sesuatu yang di pajang untuk dijual. Belum lagi kata Internetnya. Saya memang sering dengar kata kornet. Yang saya tau, itu daging yang dikalengkan. Tapi, saya ragu apa internet itu sejenis kornet.

Meski masih SMP saya nggak bego-bego banget. Yang saya yakin waktu itu, pasti kornet dan Internet itu nggak punya hubungan apa-apa. Kalo sekarang, justru saya yakin banget kalo kedua kata itu punya hubungan apa-apa. Orang yang jualan kornet pasti menggunakan Internet untuk menjual kornet-kornetnya. Betul kan? Begitulah, kepenasaran saya belum terjawab. Setiap hari saya pasti melihat ke arah ‘warung Internet’ itu.

Waktu itu cita-cita terbesar saya adalah masuk ke tempat yang bernama ‘warung internet’ itu. Bukan cita-cita yang bagus memang. Ketika TK saya punya cita-cita jadi arsitek, tapi ketika itu, cita-cita itu tergantikan dengan cita-cita masuk ke ‘warung internet’. Lalu, suatu hari saya iseng buka Koran punya ayah saya. Saat itu saya nggak sengaja menemukan kata Internet. Kata itu langsung menarik perhatian saya. Dan selanjutnya saya juga menemukan kata ‘website’ dengan embel-embel ‘www’ dan ‘com di awal dan di belakangnya.

Saya nggak ingat pasti apa website yang saya lihat waktu itu. Lalu otak saya mulai menghubung-hubungkan. Ada kata Internet, website, dan warung internet di otak saya. Waktu itu, entah kenapa saya bisa berpikir bahwa saya bisa melihat informasi yang ada di Koran itu di internet. Dan keinginan untuk masuk ke ‘warung internet’ itu semakin menggebu.

Akhirnya, suatu hari, entah malaikat apa yang memotivasi saya waktu itu. Saya sudah berada di depan pintu ‘warung internet’. Saya bingung, “masuk.nggak..masuk..enggak”. Tapi rasa penasaran itu luar biasa kuatnya. Akhirnya saya memutuskan. Saya masuk sodara-sodara! Dan, begitu masuk, dugaan saya tepat, nggak ada orang yang jualan kornet disini! Lalu saya membuka browser. Karena saya melihat hanya di ‘Internet explorer’ yang ada kata-kata internetnya, maka itu yang saya klik.

Klik sekali nggak bisa. Sekali lagi nggak bisa. Akhirnya saya klik berulang-ulang. Ternyata banyak yang muncul. Saya buang semua, dan tinggal satu browser. (waktu itu saya nggak tau itu internet explorer itu namanya browser). Lantas, saya masukkan alamat website ke kotak yang ada tulisan ‘address’ nya. Karena Cuma itu tempat yang bisa di ketik. (lagipula saya juga sudah tau kalau ‘address’ itu artinya alamat!) Setelah menunggu beberapa detik, muncul sesuatu di layar. Sampai akhirnya muncul secara sempurna. Beuh! Keren juga pikir saya waktu itu.

Setelah itu, saya coba dengan alamat-alamat website lain yang ada di kotak ‘address’ itu. Awalnya saya masih bingung, tapi setelah beberapa menit, malah jadi keasyikan. Berhubung saya masih SMP dan bawa duit pas-pasan, saya nggak terlalu lama nge-net nya waktu itu. Setelah itu saya semakin sering datang ke ‘warnet’ (saya baru tau waktu itu, orang sering menyingkat warung internet dengan warnet) tapi baru sebatas browsing saja. Karena memang baru bisa browsing saja.

***

Ketika SMA, jarak sekolah dan rumah cukup jauh. Bisa makan waktu 2-3 hari kalau jalan kaki. Setelah diadakan konferensi keluarga, akhirnya diputuskanlah, saya harus ‘dibuang’ jauh dari rumah. Saya jadi anak kos! Disini interaksi saya dengan internet lebih akrab lagi. Saya semakin mengenal Internet. Ternyata Internet sangat menyenangkan. Saya rasa saya sangat cocok dengan internet.Saya telah jatuh cinta pada Internet. Rencananya bulan depan saya akan kerumahnya untuk bertemu dengan orang tuanya sekaligus melamar. (ini ngomongin apa sih?!.. hehe)

Di SMA juga saya membuat e-mail pertama kali. Yang sampai saat ini masih beroperasi. Email saya itu adalah : crief16@yahoo.com. Bukan sembarang email. Tapi itu ada filosofinya. Diambil dari nama saya; Arief. ‘C’ dalam bahasa Inggris akan dibaca ‘si’ kan dalam bahasa Indonesia. ‘R’ akan dibaca ‘ar’. Jadi ketika di gabungkan akan menjadi “si arief”. Haha, maksa sih, tapi biarlah. Namanya juga anak muda. Angka 16 itu adalah usia saya waktu membuat email itu. Ya, usia saya waktu itu 16 tahun. Anak sekarang umur 16 tahun, mungkin sudah ada yang bisa bikin program aplikasi computer, zaman dulu, baru bisa bikin email. Ck..ck..ck..

Ketika tinggal di kos-kosan,saya satu kamar dengan seorang teman. Teman ini berasal dari Riau. Bukan di kotanya. Tapi, dari kotanya, dia harus menyebrang dengan kapal untuk mencapai sebuah pulau. Nah, di sanalah rumahnya. Jangankan internet, saya juga masih ragu apakah disana sudah masuk listrik sekarang. Ya, begitulah teman saya itu. Dia baik. Tapi masih lugu banget! Nah, berhubung saya satu kamar dengan dia, mau tak mau, saya juga sering jalan bareng dia. Termasuk main ke warnet.

Dari sanalah saya mengenalkan internet padanya. Setelah kenal dengan internet. Sepertinya dia juga jatuh cinta. Bisa dipastikan setiap hari dia ke warnet. Mending kalau sebentar. Dia bisa menghabiskan 3-4 jam di warnet. Set dah! Saya aja yang ngajarin nggak pernah lebih dari dua jam di warnet. Bukan karena nggak mau, tapi keuangan anak kos kan terbatas. Saya jadi khawatir dengan teman saya itu.

Bayangkan saja, kalau setiap hari dia menghabiskan 3 jam dalam sehari di warnet, berarti dia menghabiskan Rp.9ribu/hari. Dikali 30 hari berarti Rp.270ribu dalam satu bulan! Dahsyat! Untungnya dia cepat sadar, bahwa dia masih membutuhkan uang untuk makan sehari-hari. Kalau nggak, berarti saya adalah orang yang paling berjasa membuat teman sekamar mati kelaparan gara-gara nge-net over dosis.

Begitulah, sejak itu saya lebih banyak berinteraksi dengan internet. Mulai kenal dengan chatting, googling, blogging dan sebagainya. Kita pun perlu bijak menyikapi teknologi. Teknologi adalah kemudahan yang luar biasa buat kita. Dia pun bisa jadi positif dan bisa jadi negative. Dia bisa jadi pahala, dia pun bisa jadi dosa. Maka, selanjutnya terserah kita, akan pilih yang mana.





Menjadi Kaya dari Menulis

30 04 2009

By: Didik Wijaya

Judul di atas mungkin akan dianggap oleh sebagian orang terlalu berlebihan. Lha hidup layak dari menulis saja cukup sulit. Mungkin Anda mengenal penulis yang hidupnya serba susah karena mengandalkan honor dari menulis saja. Banyak orang tua yang keningnya langsung berkerut waktu mengetahui anaknya tercinta bercita-cita menjadi penulis. Madesu atau masa depan suram sudah terbayang di benak orang tua tersebut. Bagi sebagian orang profesi penulis masih dipandang sebelah mata.

Judul di atas tidak mengada-ada. Banyak penulis yang bisa menjadi orang kaya. Berlimpah ruah materi. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika Anda ingin kaya dari menulis atau sedikitnya hidup berkecukupan dari menulis.

1. Buku yang Anda tulis laris manis.
Mungkin ini adalah syarat yang paling susah dipenuhi. Anda mungkin berpikir bahwa buku yang laris adalah buku yang memiliki kualitas sangat baik, masterpiece. Salah. Belum tentu. Tidak semua buku yang laris adalah masterpiece. Buku yang berkualitaspun belum tentu terjual banyak. Memang, walaupun begitu, buku dengan kualitas baik memiliki kemungkinan lebih besar menjadi laris. Jadi, ada banyak kemungkinan buku Anda akan menjadi buku laris.

2. Anda cukup produktif menulis buku.
Jika Anda memiliki buku Best Seller Anda pantas bersyukur. Tetapi seberapa banyak sih sebuah buku yang dinyatakan best seller laku terjual di Indonesia.
Apalagi jika kita melihat kondisi di Indonesia yang sangat rendah minat bacanya. Suatu buku yang disebut best seller oplahnya hanya ada di kisaran angka ribuan. Paling banter puluhan ribu. Ini lebih sedikit lagi kalau buku tersebut adalah buku non fiksi. Cara mensiasati hal ini adalah dengan produktif menulis buku.

3. Anda memiliki penghasilan yang merupakan side effect dari tulisan Anda.
Tentu Anda pernah melihat banyak profesional yang menulis buku. Pernah saya menanyakan apa sih motivasinya menulis buku. Ia menjawab, bagi-bagi ilmu, sekalian mempromosikan keahliannya. Royalti sama sekali tidak ada di dalam jawabannya. Nilainya tidak sebanding dengan waktu, tenaga yang harus dicurahkan untuk menulis buku. Dengan menulis buku ia akan mendapatkan kredibilitas yang makin mendorong bisnisnya.

4. Anda harus menjual diri Anda sendiri.
Bukan jamannya lagi seorang penulis adalah seorang yang menyendiri, tenggelam dalam kesibukkannya menulis dan melupakan hubungan dengan dunia luar.
Seorang penulis pernah berkata bahwa karena ia bukan seorang yang bisa berbicara dengan baik makanya ia menjadi penulis. The worst thing, ia hanya menulis dan menulis, dan tidak pernah muncul di dunia. Jika Anda memiliki kesempatan, berinteraksilah dengan lngkungan, berbicaralah dengan siapapun. Semakin banyak Anda dikenal, semakin banyak kesempatan orang akan membeli buku Anda. Jika Anda hanya menulis dan menulis, hanya faktor luck yang akan membantu buku Anda laku di pasaran. Orang yang datang ke toko buku, dan melihat buku baru Anda dipajang di etalase toko buku, akan berkata “Who the hell is the writer”. Semakin sering Anda menulis juga akan mendongkrak nama Anda, tetapi prosesnya akan lama. Berbeda jika nama Anda sudah dikenal sebelumnya.

Jika Anda enggan atau tidak nyaman bertemu dengan orang dan berbicara. Gunakan kemampuan teknologi seperti chat, email, blog, untuk berkomunikasi dengan orang lain.





BANTU PALESTINE

3 02 2009

Dari seorang teman yang mengirim penawaran penjualan kaos. bermerek BAGEUR.

membeli produknya InsyaAllah membantu saudara2 kita di Palestina. karena 2,5% keuntungan akan dialokasikan untuk PALESTINE.

berikut desainnya…

katalogpalestine

intifadhahlagi

university

untuk info lebih lanjut hubungi Asti 087821488015 atau Ali 085310200130





9 01 2009

283

300

1904-300x600

anak-palestina-korban-biadab-israel

hamas20braves20torrential20rain

Allahumma Ya Allah…

Engkau yang maha pengampun.

maka ampunilah sebanyak apapun dosa kami.

Ya Rabbana yang maha melindungi.

Lindungilah saudara-saudara kami dari

kebiadaban Yahudi la’natullah.

berikan mereka kesabaran ya Allah…

berikan mereka kekuatan untuk terus melawan ya Rabb…

Ya Allah yang maha perkasa,

sungguh, Engkau berkuasa atas segalanya,

maka, kumohon padaMu ya Rabb,

Hancurkan makhluk-makhluk biadab yang bernama

Zionis Yahudi, seperti engkau menghancurkan

pasukan gajah dahulu.

nistakan mereka dengan sakit jiwa, buat mereka

tertekan ya Rabb, siksa mereka dengan azab

yang sangat pedih ya Allah.

Aku Mohon Ya Allah…Hancurkan mereka!

Allahummanshur ikhwana wa mujahidiina fii filistiin…

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal padaMu
hidupkan dengan ma’rifatMu
matikan dalam syahid di jalan Mu
Engkaulah pelindung dan pembela.

karuniakan  kami kesyahidan sebagaimana telah

engkau karuniakan pada para mujahidin Palestina…





Mengejar cinta

5 01 2009

Tak ada yang dapat menolak saat dia hadir. Dan tiada pula yang dapat menolak saat ia pergi, dan takkan pernah kembali.

Cinta memang bagai angin yang berhembus. Tak seorangpun sadar kapan ia akan hadir. Namun, saat ia hadir, semua bisa merasakan. Dan begitu nikmatnya ia menyapu wajah, menyentuh setiap inci kulit dan pori. Begitu membuai. Begitupun saat ia pergi, tak ada yang bisa mencegahnya. Karena ada Zat yang Maha Mengatur, kapan ia hadir dan kapan ia pergi.

Itu mungkin yang dirasakan seorang sahabat. Namanya Ahmad. Usianya telah masuk masa berumah tangga. Ia telah mapan. Ia pun sudah sangat ingin mendapatkan seorang pendamping, yang kan setia menemani setiap hari dalam hidupnya.

Maka ia pun berkonsultasi kepada setiap orang yang dirasa mampu ia percaya. Termasuk saya. Intinya dia meminta pertimbangan, siapa yang pantas menjadi ibu dari anak-anaknya nanti. Ada 5 nama yang menjadi alternatifnya.

Sebenarnya ada satu nama yang sudah ia siapkan, dan meminta pertimbangan pada orang yang diajaknya berkonsultasi itu. Namanya Husna. Saya tak tahu persis apa yang dirasakannya pada gadis itu. Karena saya memang telah lama merekomendasikan Husna padanya. Tapi ia tak kunjung ‘bergerak’. Karena katanya ia ingin mendahulukan dua orang kakaknya untuk menikah. Yang pasti ia meminta pertimbangan tentang gadis ini.

Tiga orang sudah dimintai pertimbangan. Saya, seorang teman akhwat, dan kakaknya yang sendiri yang telah menikah. semua mendukungnya untuk ‘mengejar’ Husna. Maka, Bismillah…ia akan segera melamar Husna, setelah kakaknya yang lain selesai melamar seorang gadis. Empat nama lainnya ia delete!

Dan, suatu ahad, acara khitbah sang kakak sukses dilaksanakan. Kakaknya akan menikah 3 bulan lagi. Ia pun lega. Karena ia akan segera memulai prosesnya dengan sang akhwat.

Tapi suatu malam, ia mengirim pesan singkat pada saya dan pada teman akhwat itu. sangat singkat. Dengan redaksi yang sama. “ Husna mau menikah februari! “

Jujur saya tidak terlalu yakin dengan pesan singkat itu. karena saya juga belum tahu pasti darimana ia mendapat informasi itu.

Keesokan harinya, ia mengajak saya bertemu. Berdua saja. Ia ingin mencurahkan isi hatinya. Kami bertemu. Dan ia pun bercerita panjang lebar.

Beberapa hari yang lalu, setelah selesai acara khitbah sang kakak. sebut saja Eka. Eka berkunjung ke rumah seorang teman yang namanya Jaki. Berdua dengan Irdus, temannya juga.

Awalnya berbincang biasa. Kemudian melebar ke masalah pernikahan.

“ saya baru saja mengkhitbah seorang akhwat…” kata Eka. Jaki lalu bertanya macam macam, namanya siapa,kerja dimana, bla..bla..bla.

“ saya juga baru mengkhitbah seorang akhwat..” kata Jaki. Ternyata mereka mengkhitbah pada hari dan tanggal yang sama.

Namun yang mengejutkan Eka, saat Jaki menyebutkan akhwat yang telah dikhitbahnya. Namanya Husna! Akhwat yang ingin dikhitbah oleh Ahmad.

Eka mengatakan pada Irdus untuk menceritakan semua ini pada Ahmad. Terang saja Ahmad pun kaget mendengar kabar itu.

“ jujur saja, saya agak shock mendengar kabar itu..manusiawi kan? ” kata Ahmad. Saya hanya mengangguk.

“ dan sekarang saya bingung harus memilih yang mana lagi? Semua blank lagi…”

“ memangnya kemana empat alternatif lain itu? “ tanya saya.

“ entahlah, saya merasa tak bisa memunculkan kembali empat nama itu…”

Dan sampai detik ini, ia belum menemukan Husna lain yang akan mendampingi hidupnya. Ia masih berusaha mengejar cintanya. Semoga Allah menghadirkan orang yang tepat untuk dirinya, Allahuma ya Allah…

Sama persis dengan yang dialami oleh seorang tokoh pergerakan terbesar abad ini. Begitu pula yang dialami oleh sosok yang melahirkan fii zhilalil Qur’an itu. Sayyid Quthub namanya.

Dua kali Sayyid Quthub jatuh cinta. Dua kali pula ia patah hati., kata DR.Abdul Fattah Al Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama dari desanya sendiri. Gadis itu kemudian menikah, hanya tiga tahun setelah ia pergi ke Kairo untuk belajar. Sang ustadz menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua, berasal dari Kairo. Untuk ukuran mesir, gadis itu tidak termasuk cantik. Jujur, saya belum pernah tahu banyak tentang gadis mesir. Tapi, deskripsi seorang teman dari Jeddah cukup meyakinkan saya bahwa gadis Mesir itu luar biasa cantik!

Dan gadis itu tidak secantik kebanyakan orang. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya. Kata sayyid menjelaskan pesona sang gadis.

Tragedi itu justru terjadi saat hari khitbah. Sambil terisak, gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah mengisi ruang hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan sang Ustadz ; karena ia memimpikan seseorang yang perawan fisiknya dan perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan fisiknya.

Akhirnya ia memutuskan hubungan itu. Namun, itu justru semakin menyiksanya. Ketika ia minta rujuk kembali dan melamar kembali sang gadis. Justru sang gadis menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu.

Namun, Sayyid adalah orang besar dengan segala kebesaran jiwa, rasionalitas, relaisme, dan sangkaan baik kepada Allah. Ada Allah diatas segalanya. Ada visi besar yang harus diembannya. Dan wanita, hanya salah satu episode dari seluruh penggalan kisah hidupnya.

Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata “apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” dan setelah itu ia berlari mengejar mimpi dan cintanya yang lain.

Ia dipenjara 15 tahun, menulis fii Zhilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan sendirian! Ya hanya sendirian!

Selamat mengejar cinta!





Sebuah Kritik untuk Tukang Kritik…

18 10 2008

Sebuah Kritik untuk Tukang Kritik…

By : Arief

Dua hari yang lalu ada seorang teman penulis yang bercerita kepada saya. Lebih tepatnya mencurahkan isi hatinya pada saya. Dia bilang, salah satu buku karyanya, dikritik sama orang lain, yang dia sama sekali nggak kenal dengan si kritikus. Mending mengkritiknya langsung. Face to face. Tapi ini nggak. Sang krtitikus itu mengkritik dan membandingkan dengan karya sejenis (yang menurutnya lebih bagus) di sebuah blog! Padahal menurut saya, novel teman saya itu nggak jelek-jelek amat. Buktinya sampai sekarang, sudah beberapa kali cetak ulang. Di beberapa toko buku stoknya habis. Dan banyak juga tuh yang memberi pujian. Yang memberi pujian juga orang yang nggak dikenalnya.

Teman saya bilang, si kritikus itu mengatakan kalau novelnya itu sudah seperti buku bertema social, politik dan agama saja. Dan banyak lagi yang dikomentari si kritikus. Yang menyakitkan ya itu, si kritikus itu mengkritik di sebuah blog. Di internet gitu loh! Terang saja teman saya itu mencak-mencak. Jelas ia merasa dirugikan dengan kritik itu. Bayangkan berapa banyak orang yang tadinya ingin membeli bukunya, tapi urung gara-gara membaca tulisan (kritik) di blog itu.

Saya hanya bisa mendengarkan. Karena saya pun bingung harus berkata apa. Bukan saya nggak bisa memberikan pendapat pada teman saya itu. Saya bisa. Masalahnya saya juga punya masalah yang sama. Itu yang bikin saya bingung.

Beberapa hari yang lalu, saat buka puasa bareng teman-teman seangkatan di sekolah dulu, saya juga mendapat kritikan yang sama. Teman saya yang mengkritik itu bilang, novel saya itu kebanyakan ceramahnya. “Kalau mau cerita ya cerita saja..meskipun ceramahnya dimasukkan ke dalam dialog, tapi tetap saja nggak enak. Tokohnya juga nggak konsisten..bla..bla..blaa..” kata teman saya itu panjang lebar. Saya Cuma tersenyum sinis. Lalu saya bilang padanya, “saya baru bisa bikin yang seperti itu, kalau bisa ya, bikinlah yang lebih baik..” kemudian saya Tanya padanya “apa lagi kritiknya?” dia bilang “itu aja..” lalu dia diam. Dalam hati saya, memangnya Ayat-Ayat Cinta itu isinya nggak ceramah. Lebih banyak ceramahnya malah daripada ceritanya.

Tapi saya bersyukur saja masih ada yang mengkritik saya. Berarti masih ada yang peduli dengan karya saya. Apalagi saya yang memintanya. Bagus deh, siapa tau dengan kritikan itu, buku saya bisa cetak ulang terooss. J

Uniknya, orang yang mengkritik teman saya itu punya satu kesamaan yang mendasar dengan teman saya yang mengkritik saya itu. Kesamaannya ; mereka sama-sama anggota di sebuah forum kepenulisan yang sama. Yang satu cabang Bandung, satunya lagi Cabang Medan.

Tadi siang, saya membaca tiga kritikan lagi. Tentang tiga karya yang berbeda, yang dua malah berskala nasional. Jauh lebih hebat dari karya saya dan teman penulis saya itu. Satu kritikan untuk Laskar Pelangi, satu lagi untuk Film Sang Murabbi. Si kritikus Laskar Pelangi bilang; “Laskar Pelangi itu Gaya alurnya lambat. Baik alur maju maupun mundur.”

Saya senyum baca komentar si kritikus ini. Kok bisa ya dia ngasi kritik untuk novel yang ’National Best Seller’ dan udah dibikin filmnya itu. (kalau novel saya dikritik, itu wajar!masih amatiran soalnya.) ini malah sudah dibikin soundtracknya sama Nidji. Dipuji-puji di Kick Andy. Dan media-media lainnya.

Kritikan untuk Sang Murabbi lebih dahsyat lagi. Dia membuatnya di koran Pikiran Rakyat (29/09) yang juga masuk di internet. Si kritikus bilang ” Memang setelah menontonnya, saya yakin kalau film “Sang Murabbi” lebih baik diberi label “Untuk Kalangan Sendiri” karena hanya bisa dimengerti untuk mereka yang termasuk ke dalam jenis penonton “aktivis dakwah”. Tapi ini juga yang membuat saya kecewa, bahkan saya merasa film ini adalah salah satu bukti kemunduran dalam dunia dakwah yang didengung-dengungkan para filmmaker islami, dengan kata lain film ini alih-alih mengajarkan Islam yang sesungguhnya atau menampilkan sosok teladan yang wajib dicontoh kepada penontonnya, justru film ini bisa jadi kontraproduktif dengan misi semula.”

Intinya dia bilang, film Sang Murabbi itu nggak bagus! Karena nggak sesuai dengan universalitas dakwah. Yang dalam persepsi si kritikus itu harus global, harus bisa menjangkau semua elemen masyarakat. Dia juga bilang film ini mubazir, karena pesan yang ingin disampaikan tidak sampai. Katanya Allah nggak suka dengan sesuatu yang mubazir.

Saya tertawa ngakak membaca kritikan si kritikus film itu. Sang Murabbi itu kan memang film untuk kalangan sendiri. Si sutradara pasti udah mikirin semuanya sebelum dia bikin film ini. Dan produsernya pasti udah mikirin semua tentang prospek, sasaran dan maksud film ini. Jadi jangan sok tau deh! Dan yang bikin saya penasaran. Jangan-jangan si kritikus ini ’belom ngaji’ dan sok tau sendiri dengan bicara tentang dakwah. Atau,kalaupun dia sudah ngaji, jangan- jangan baru mentoring dua bulan. Ck..ck..

Yang ketiga, kritik pada novel ‘Da Peci Code’ yang ditulis oleh Ben Sohib . Si kritikus bilang novel nya nggak lucu, garing dan lain sebagainya. Si kritikus ini juga mendiskusikan novel ini dengan kritikus lain, yang bilang “ini novel nggak penting buat dibaca!” Yang jelas, penulisnya bakalan nyesek banget kalau baca komentar si kritikus di blognya itu. (tadinya saya mau ngasi alamat blognya disini, Cuma males. Ntar dia malah jadi selebritis!)

Ada satu hal unik yang membuat saya tersentak ketika mengetahui hal ini. Tau nggak sih? Ternyata, orang yang mengkritik teman penulis saya di blog itu, orang yang mengkritik film Sang Murabbi,dan orang yang diajak berdiskusi dengan kritikus ‘da peci code’… adalah orang yang sama. (kalau penasaran dengan kritikus nggak ada kerjaan ini, ketik saja di Google “ ‘cause heaven is in here…” antum akan tau siapa orang ini.

***

Hmm..saya jadi ingin menuliskan sesuatu untuk para tukang kritik itu …

Wahai para tukang kritik …

Sebaiknya kalian semua berpikir dulu sebelum memberikan kritik pada orang lain. Tanyakan pada orang yang akan kalian berikan kritik, apakah mereka bersedia dikritik atau tidak? Kalau nggak mau dikritik nggak usah sok mengkritik! Atau kalau belum nanya sama orang yang mau dikritik, nggak usah dikritik. Mungkin dia sedang nggak mood untuk dikritik.

Wahai para tukang kritik …

Sebaiknya kalian belajar bagaimana cara nabi kalian memberikan kritik dan apresiasi untuk orang lain. Sudah jadi fitrah manusia, untuk senang menerima pujian. Bahkan Rasulullah pun sering memuji para sahabatnya. Lihat cara Rasulullah memuji Abu Bakar dalam beramal Soleh, lihat juga cara beliau memuji Umar, Ali, Usman dan sahabat-sahabat yang lain atas ‘karya’ yang telah mereka hasilkan. Lihat cara Rasulullah memberikan kritik pada seseorang. Pernahkah beliau mengumumkan kejelekan seseorang itu? Tirulah nabi kalian itu!

Wahai para tukang kritik …

Mungkin dalam organisasi yang kalian geluti, kalian biasa mendiskusikan sebuah karya. Mengkritik karya itu. Tak masalah kalau kalian melakukannya dalam komunitas kalian saja. Dan menutup kemungkinan untuk orang lain tau apa yang kalian lakukan itu. Jadi jangan sekali-kali mempublikasikan kritikan kalian itu jika itu bisa membuat orang lain terluka. Mungkin kalian berpikir “kritik itu kan untuk membangun…”. Oke! Nggak masalah! Selama orang yang kalian kritik itu yang meminta untuk dikritik! Tapi apa kalian yakin kalau kalian yang dikritik, kalian akan menerima dengan lapang dada?

Wahai para tukang kritik …

Teman saya bilang seperti ini “sebaiknya tukang kritik itu mengubah cara berpikirnya! Memangnya mereka siapa mengkritik orang? Kalo emang bisa bikin yang lebih bagus. Jangan Cuma bisa ngomong!” sepertinya ada benarnya kata teman saya itu. Daripada kalian sibuk mengkritik karya orang lain yang kalian anggap jelek, lebih baik kalian berpikir untuk membuat yang lebih bagus dari karya itu. Buktikan kalian bisa lebih baik daripada orang yang membuat Laskar Pelangi atau Sang Murabbi itu. Buktikan karya kalian bisa lebih baik dari karya mereka.

Sekian…

***

Semoga para tukang kritik itu membaca ini. Dan bertobat. Bangsa ini butuh orang yang lebih banyak berbuat daripada bicara. sudah banyak orang yang kerjaaannya bicara. Trainer, Psikolog, Presenter, Anggota DPR. Di DPR sana mereka setiap hari kerjaannya hanya bicara. Jadi biarkan saja mereka yang banyak bicara. jangan ikut-ikutan. Kalau semua bicara, siapa yang akan bekerja? Kritik memang menyehatkan, ketika dibangun dengan unsur yang juga membangun. Niat nya juga membangun. Jadi silakan mengkritik, ketika kita tau apa saja yang harus dilakukan sebelum mengkritik.

Selamat mengkritik dan dikritik.

Wallahu A’lam.

Medan. 23.00 WIB

Satu hari sebelum Ramadhan berakhir.