9 01 2009

283

300

1904-300x600

anak-palestina-korban-biadab-israel

hamas20braves20torrential20rain

Allahumma Ya Allah…

Engkau yang maha pengampun.

maka ampunilah sebanyak apapun dosa kami.

Ya Rabbana yang maha melindungi.

Lindungilah saudara-saudara kami dari

kebiadaban Yahudi la’natullah.

berikan mereka kesabaran ya Allah…

berikan mereka kekuatan untuk terus melawan ya Rabb…

Ya Allah yang maha perkasa,

sungguh, Engkau berkuasa atas segalanya,

maka, kumohon padaMu ya Rabb,

Hancurkan makhluk-makhluk biadab yang bernama

Zionis Yahudi, seperti engkau menghancurkan

pasukan gajah dahulu.

nistakan mereka dengan sakit jiwa, buat mereka

tertekan ya Rabb, siksa mereka dengan azab

yang sangat pedih ya Allah.

Aku Mohon Ya Allah…Hancurkan mereka!

Allahummanshur ikhwana wa mujahidiina fii filistiin…

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal padaMu
hidupkan dengan ma’rifatMu
matikan dalam syahid di jalan Mu
Engkaulah pelindung dan pembela.

karuniakan  kami kesyahidan sebagaimana telah

engkau karuniakan pada para mujahidin Palestina…





Mengejar cinta

5 01 2009

Tak ada yang dapat menolak saat dia hadir. Dan tiada pula yang dapat menolak saat ia pergi, dan takkan pernah kembali.

Cinta memang bagai angin yang berhembus. Tak seorangpun sadar kapan ia akan hadir. Namun, saat ia hadir, semua bisa merasakan. Dan begitu nikmatnya ia menyapu wajah, menyentuh setiap inci kulit dan pori. Begitu membuai. Begitupun saat ia pergi, tak ada yang bisa mencegahnya. Karena ada Zat yang Maha Mengatur, kapan ia hadir dan kapan ia pergi.

Itu mungkin yang dirasakan seorang sahabat. Namanya Ahmad. Usianya telah masuk masa berumah tangga. Ia telah mapan. Ia pun sudah sangat ingin mendapatkan seorang pendamping, yang kan setia menemani setiap hari dalam hidupnya.

Maka ia pun berkonsultasi kepada setiap orang yang dirasa mampu ia percaya. Termasuk saya. Intinya dia meminta pertimbangan, siapa yang pantas menjadi ibu dari anak-anaknya nanti. Ada 5 nama yang menjadi alternatifnya.

Sebenarnya ada satu nama yang sudah ia siapkan, dan meminta pertimbangan pada orang yang diajaknya berkonsultasi itu. Namanya Husna. Saya tak tahu persis apa yang dirasakannya pada gadis itu. Karena saya memang telah lama merekomendasikan Husna padanya. Tapi ia tak kunjung ‘bergerak’. Karena katanya ia ingin mendahulukan dua orang kakaknya untuk menikah. Yang pasti ia meminta pertimbangan tentang gadis ini.

Tiga orang sudah dimintai pertimbangan. Saya, seorang teman akhwat, dan kakaknya yang sendiri yang telah menikah. semua mendukungnya untuk ‘mengejar’ Husna. Maka, Bismillah…ia akan segera melamar Husna, setelah kakaknya yang lain selesai melamar seorang gadis. Empat nama lainnya ia delete!

Dan, suatu ahad, acara khitbah sang kakak sukses dilaksanakan. Kakaknya akan menikah 3 bulan lagi. Ia pun lega. Karena ia akan segera memulai prosesnya dengan sang akhwat.

Tapi suatu malam, ia mengirim pesan singkat pada saya dan pada teman akhwat itu. sangat singkat. Dengan redaksi yang sama. “ Husna mau menikah februari! “

Jujur saya tidak terlalu yakin dengan pesan singkat itu. karena saya juga belum tahu pasti darimana ia mendapat informasi itu.

Keesokan harinya, ia mengajak saya bertemu. Berdua saja. Ia ingin mencurahkan isi hatinya. Kami bertemu. Dan ia pun bercerita panjang lebar.

Beberapa hari yang lalu, setelah selesai acara khitbah sang kakak. sebut saja Eka. Eka berkunjung ke rumah seorang teman yang namanya Jaki. Berdua dengan Irdus, temannya juga.

Awalnya berbincang biasa. Kemudian melebar ke masalah pernikahan.

“ saya baru saja mengkhitbah seorang akhwat…” kata Eka. Jaki lalu bertanya macam macam, namanya siapa,kerja dimana, bla..bla..bla.

“ saya juga baru mengkhitbah seorang akhwat..” kata Jaki. Ternyata mereka mengkhitbah pada hari dan tanggal yang sama.

Namun yang mengejutkan Eka, saat Jaki menyebutkan akhwat yang telah dikhitbahnya. Namanya Husna! Akhwat yang ingin dikhitbah oleh Ahmad.

Eka mengatakan pada Irdus untuk menceritakan semua ini pada Ahmad. Terang saja Ahmad pun kaget mendengar kabar itu.

“ jujur saja, saya agak shock mendengar kabar itu..manusiawi kan? ” kata Ahmad. Saya hanya mengangguk.

“ dan sekarang saya bingung harus memilih yang mana lagi? Semua blank lagi…”

“ memangnya kemana empat alternatif lain itu? “ tanya saya.

“ entahlah, saya merasa tak bisa memunculkan kembali empat nama itu…”

Dan sampai detik ini, ia belum menemukan Husna lain yang akan mendampingi hidupnya. Ia masih berusaha mengejar cintanya. Semoga Allah menghadirkan orang yang tepat untuk dirinya, Allahuma ya Allah…

Sama persis dengan yang dialami oleh seorang tokoh pergerakan terbesar abad ini. Begitu pula yang dialami oleh sosok yang melahirkan fii zhilalil Qur’an itu. Sayyid Quthub namanya.

Dua kali Sayyid Quthub jatuh cinta. Dua kali pula ia patah hati., kata DR.Abdul Fattah Al Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama dari desanya sendiri. Gadis itu kemudian menikah, hanya tiga tahun setelah ia pergi ke Kairo untuk belajar. Sang ustadz menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua, berasal dari Kairo. Untuk ukuran mesir, gadis itu tidak termasuk cantik. Jujur, saya belum pernah tahu banyak tentang gadis mesir. Tapi, deskripsi seorang teman dari Jeddah cukup meyakinkan saya bahwa gadis Mesir itu luar biasa cantik!

Dan gadis itu tidak secantik kebanyakan orang. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya. Kata sayyid menjelaskan pesona sang gadis.

Tragedi itu justru terjadi saat hari khitbah. Sambil terisak, gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah mengisi ruang hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan sang Ustadz ; karena ia memimpikan seseorang yang perawan fisiknya dan perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan fisiknya.

Akhirnya ia memutuskan hubungan itu. Namun, itu justru semakin menyiksanya. Ketika ia minta rujuk kembali dan melamar kembali sang gadis. Justru sang gadis menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu.

Namun, Sayyid adalah orang besar dengan segala kebesaran jiwa, rasionalitas, relaisme, dan sangkaan baik kepada Allah. Ada Allah diatas segalanya. Ada visi besar yang harus diembannya. Dan wanita, hanya salah satu episode dari seluruh penggalan kisah hidupnya.

Begitu Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata “apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” dan setelah itu ia berlari mengejar mimpi dan cintanya yang lain.

Ia dipenjara 15 tahun, menulis fii Zhilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan sendirian! Ya hanya sendirian!

Selamat mengejar cinta!