Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

29 10 2008

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

By : Anis Matta Lc.


Ternyata obrolan kita tentang cinta belum selesai. Saya telah menyatakan sebelumnya betapa penting peranan kata itu dalam mengekspresikan kata cinta. Tapi itu bukan satu-satunya bentuk ekspresi cinta. Cinta merupakan sebentuk emosi manusiawi. Karena itu ia bersifat fluktuatif naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar di diri manusia yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya saya juga mengatakan, mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya. Jadi obrolan kita belum selesai.

Walaupun begitu, saya juga tidak merasakan adanya urgensi untuk menjawab pertanyaan ini: apa itu cinta? Itu terlalu filosofis. Saya lebih suka menjawab pertanyaan ini: bagaimana seharusnya anda mencintai? Pertanyaan ini melekat erat dalam kehidupan individu kita.

Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran. Apa yg dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga-bunga adalah air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yg bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini: menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini; bagaimana istri anda melahirkan seorang bayi, lalu merawatnya, dan menumbuhkannya, mengembangkannya serta menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila anda ingin mencintai dengan kuat, maka anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerimanya apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin, kemudian merawatnya… menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta; pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah anda telah mengenal isteri anda dengan seksama? Apakah anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya?

Apakah anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya? Apakah anda mengenal pola-pola ungkapannya; melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata, melalui gerak motorik refleksinya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya? Apakah anda dapat merasakan getaran jiwanya, saat ia suka dan saat ia benci, saat ia takut dan begitu membutuhkan perlindungan? Apakah anda dapat melihat gelombang-gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya?

Sekarang perhatikanlah bagaimana tingkat pengenalan Rosululloh saw terhadap istrinya, Aisyah. Suatu waktu beliau berkata, “Wahai Aisyah, aku tahu kapan saatnya kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha, maka kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Rosulullah! tapi jika kamu marah padaku, kamu akan memanggilku dengan sebutan: Ya Muhammad!. Apakah beda antara Rosululloh dan Muhammad kalau toh obyeknya itu-itu saja? Tapi Aisyah telah memberikan pemaknaan khusus ketika ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa yang lain. Pengenalan yang baik harus disertai penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dlm proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau “obsesi” yang berlebihan terhadap fisik.

Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerima apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangan bukanlah kondisi akhir kepribadiannya, dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya. Apakah yg ia harap dari bayi kecil itu ketika ia merawatnya, menjaganya, dan menumbuhkannya? Apakah ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikannya? Tidak. Semua yg ada dlm jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang utk berubah dan berkembang. Dan karenanya ia menyimpan harapan besar dlm hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yg akan menjadikan segalanya lebih baik. Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya; pengembangan.

Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yg tertutup. Ketika ia memasuki rumah anda, memasuki wilayah kekuasaan anda, menjadi istri anda, menjadi ibu anak-anak anda; Andalah yg bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar menjadi bunga. Andalah yg harus menyirami bunga itu dengan air kebaikan, membuka semua pintu hati anda baginya, agar ia dapat menikmati cahaya matahari yg akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi.

Dan ungkapan “Aku Cinta Kamu” boleh jadi akan kehilangan makna ketika ia dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik (dan tidak menyenangkan). Apa yg harus anda berikan kepada istri anda adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa superioritas anda terganggu. Ini tidak berarti anda harus memberi semua yang ia senangi, tapi berikanlah apa yg ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dlm keseimbangan. Dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang anda perlu memotong sejumlah (ranting atau cabang) yg sudah kepanjangan agar tetap terlihat serasi dan harmoni. Hidup adalah simponi yg kita mainkan dengan indah.

Maka, duduklah sejenak bersama dengan istri anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri: Apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama dengan anda?

Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya:

DAN NAFAS CINTANYA MENIUP KUNCUPKU …
MAKA IA MEKAR MENJADI BUNGA …





Sebuah Kritik untuk Tukang Kritik…

18 10 2008

Sebuah Kritik untuk Tukang Kritik…

By : Arief

Dua hari yang lalu ada seorang teman penulis yang bercerita kepada saya. Lebih tepatnya mencurahkan isi hatinya pada saya. Dia bilang, salah satu buku karyanya, dikritik sama orang lain, yang dia sama sekali nggak kenal dengan si kritikus. Mending mengkritiknya langsung. Face to face. Tapi ini nggak. Sang krtitikus itu mengkritik dan membandingkan dengan karya sejenis (yang menurutnya lebih bagus) di sebuah blog! Padahal menurut saya, novel teman saya itu nggak jelek-jelek amat. Buktinya sampai sekarang, sudah beberapa kali cetak ulang. Di beberapa toko buku stoknya habis. Dan banyak juga tuh yang memberi pujian. Yang memberi pujian juga orang yang nggak dikenalnya.

Teman saya bilang, si kritikus itu mengatakan kalau novelnya itu sudah seperti buku bertema social, politik dan agama saja. Dan banyak lagi yang dikomentari si kritikus. Yang menyakitkan ya itu, si kritikus itu mengkritik di sebuah blog. Di internet gitu loh! Terang saja teman saya itu mencak-mencak. Jelas ia merasa dirugikan dengan kritik itu. Bayangkan berapa banyak orang yang tadinya ingin membeli bukunya, tapi urung gara-gara membaca tulisan (kritik) di blog itu.

Saya hanya bisa mendengarkan. Karena saya pun bingung harus berkata apa. Bukan saya nggak bisa memberikan pendapat pada teman saya itu. Saya bisa. Masalahnya saya juga punya masalah yang sama. Itu yang bikin saya bingung.

Beberapa hari yang lalu, saat buka puasa bareng teman-teman seangkatan di sekolah dulu, saya juga mendapat kritikan yang sama. Teman saya yang mengkritik itu bilang, novel saya itu kebanyakan ceramahnya. “Kalau mau cerita ya cerita saja..meskipun ceramahnya dimasukkan ke dalam dialog, tapi tetap saja nggak enak. Tokohnya juga nggak konsisten..bla..bla..blaa..” kata teman saya itu panjang lebar. Saya Cuma tersenyum sinis. Lalu saya bilang padanya, “saya baru bisa bikin yang seperti itu, kalau bisa ya, bikinlah yang lebih baik..” kemudian saya Tanya padanya “apa lagi kritiknya?” dia bilang “itu aja..” lalu dia diam. Dalam hati saya, memangnya Ayat-Ayat Cinta itu isinya nggak ceramah. Lebih banyak ceramahnya malah daripada ceritanya.

Tapi saya bersyukur saja masih ada yang mengkritik saya. Berarti masih ada yang peduli dengan karya saya. Apalagi saya yang memintanya. Bagus deh, siapa tau dengan kritikan itu, buku saya bisa cetak ulang terooss. J

Uniknya, orang yang mengkritik teman saya itu punya satu kesamaan yang mendasar dengan teman saya yang mengkritik saya itu. Kesamaannya ; mereka sama-sama anggota di sebuah forum kepenulisan yang sama. Yang satu cabang Bandung, satunya lagi Cabang Medan.

Tadi siang, saya membaca tiga kritikan lagi. Tentang tiga karya yang berbeda, yang dua malah berskala nasional. Jauh lebih hebat dari karya saya dan teman penulis saya itu. Satu kritikan untuk Laskar Pelangi, satu lagi untuk Film Sang Murabbi. Si kritikus Laskar Pelangi bilang; “Laskar Pelangi itu Gaya alurnya lambat. Baik alur maju maupun mundur.”

Saya senyum baca komentar si kritikus ini. Kok bisa ya dia ngasi kritik untuk novel yang ’National Best Seller’ dan udah dibikin filmnya itu. (kalau novel saya dikritik, itu wajar!masih amatiran soalnya.) ini malah sudah dibikin soundtracknya sama Nidji. Dipuji-puji di Kick Andy. Dan media-media lainnya.

Kritikan untuk Sang Murabbi lebih dahsyat lagi. Dia membuatnya di koran Pikiran Rakyat (29/09) yang juga masuk di internet. Si kritikus bilang ” Memang setelah menontonnya, saya yakin kalau film “Sang Murabbi” lebih baik diberi label “Untuk Kalangan Sendiri” karena hanya bisa dimengerti untuk mereka yang termasuk ke dalam jenis penonton “aktivis dakwah”. Tapi ini juga yang membuat saya kecewa, bahkan saya merasa film ini adalah salah satu bukti kemunduran dalam dunia dakwah yang didengung-dengungkan para filmmaker islami, dengan kata lain film ini alih-alih mengajarkan Islam yang sesungguhnya atau menampilkan sosok teladan yang wajib dicontoh kepada penontonnya, justru film ini bisa jadi kontraproduktif dengan misi semula.”

Intinya dia bilang, film Sang Murabbi itu nggak bagus! Karena nggak sesuai dengan universalitas dakwah. Yang dalam persepsi si kritikus itu harus global, harus bisa menjangkau semua elemen masyarakat. Dia juga bilang film ini mubazir, karena pesan yang ingin disampaikan tidak sampai. Katanya Allah nggak suka dengan sesuatu yang mubazir.

Saya tertawa ngakak membaca kritikan si kritikus film itu. Sang Murabbi itu kan memang film untuk kalangan sendiri. Si sutradara pasti udah mikirin semuanya sebelum dia bikin film ini. Dan produsernya pasti udah mikirin semua tentang prospek, sasaran dan maksud film ini. Jadi jangan sok tau deh! Dan yang bikin saya penasaran. Jangan-jangan si kritikus ini ’belom ngaji’ dan sok tau sendiri dengan bicara tentang dakwah. Atau,kalaupun dia sudah ngaji, jangan- jangan baru mentoring dua bulan. Ck..ck..

Yang ketiga, kritik pada novel ‘Da Peci Code’ yang ditulis oleh Ben Sohib . Si kritikus bilang novel nya nggak lucu, garing dan lain sebagainya. Si kritikus ini juga mendiskusikan novel ini dengan kritikus lain, yang bilang “ini novel nggak penting buat dibaca!” Yang jelas, penulisnya bakalan nyesek banget kalau baca komentar si kritikus di blognya itu. (tadinya saya mau ngasi alamat blognya disini, Cuma males. Ntar dia malah jadi selebritis!)

Ada satu hal unik yang membuat saya tersentak ketika mengetahui hal ini. Tau nggak sih? Ternyata, orang yang mengkritik teman penulis saya di blog itu, orang yang mengkritik film Sang Murabbi,dan orang yang diajak berdiskusi dengan kritikus ‘da peci code’… adalah orang yang sama. (kalau penasaran dengan kritikus nggak ada kerjaan ini, ketik saja di Google “ ‘cause heaven is in here…” antum akan tau siapa orang ini.

***

Hmm..saya jadi ingin menuliskan sesuatu untuk para tukang kritik itu …

Wahai para tukang kritik …

Sebaiknya kalian semua berpikir dulu sebelum memberikan kritik pada orang lain. Tanyakan pada orang yang akan kalian berikan kritik, apakah mereka bersedia dikritik atau tidak? Kalau nggak mau dikritik nggak usah sok mengkritik! Atau kalau belum nanya sama orang yang mau dikritik, nggak usah dikritik. Mungkin dia sedang nggak mood untuk dikritik.

Wahai para tukang kritik …

Sebaiknya kalian belajar bagaimana cara nabi kalian memberikan kritik dan apresiasi untuk orang lain. Sudah jadi fitrah manusia, untuk senang menerima pujian. Bahkan Rasulullah pun sering memuji para sahabatnya. Lihat cara Rasulullah memuji Abu Bakar dalam beramal Soleh, lihat juga cara beliau memuji Umar, Ali, Usman dan sahabat-sahabat yang lain atas ‘karya’ yang telah mereka hasilkan. Lihat cara Rasulullah memberikan kritik pada seseorang. Pernahkah beliau mengumumkan kejelekan seseorang itu? Tirulah nabi kalian itu!

Wahai para tukang kritik …

Mungkin dalam organisasi yang kalian geluti, kalian biasa mendiskusikan sebuah karya. Mengkritik karya itu. Tak masalah kalau kalian melakukannya dalam komunitas kalian saja. Dan menutup kemungkinan untuk orang lain tau apa yang kalian lakukan itu. Jadi jangan sekali-kali mempublikasikan kritikan kalian itu jika itu bisa membuat orang lain terluka. Mungkin kalian berpikir “kritik itu kan untuk membangun…”. Oke! Nggak masalah! Selama orang yang kalian kritik itu yang meminta untuk dikritik! Tapi apa kalian yakin kalau kalian yang dikritik, kalian akan menerima dengan lapang dada?

Wahai para tukang kritik …

Teman saya bilang seperti ini “sebaiknya tukang kritik itu mengubah cara berpikirnya! Memangnya mereka siapa mengkritik orang? Kalo emang bisa bikin yang lebih bagus. Jangan Cuma bisa ngomong!” sepertinya ada benarnya kata teman saya itu. Daripada kalian sibuk mengkritik karya orang lain yang kalian anggap jelek, lebih baik kalian berpikir untuk membuat yang lebih bagus dari karya itu. Buktikan kalian bisa lebih baik daripada orang yang membuat Laskar Pelangi atau Sang Murabbi itu. Buktikan karya kalian bisa lebih baik dari karya mereka.

Sekian…

***

Semoga para tukang kritik itu membaca ini. Dan bertobat. Bangsa ini butuh orang yang lebih banyak berbuat daripada bicara. sudah banyak orang yang kerjaaannya bicara. Trainer, Psikolog, Presenter, Anggota DPR. Di DPR sana mereka setiap hari kerjaannya hanya bicara. Jadi biarkan saja mereka yang banyak bicara. jangan ikut-ikutan. Kalau semua bicara, siapa yang akan bekerja? Kritik memang menyehatkan, ketika dibangun dengan unsur yang juga membangun. Niat nya juga membangun. Jadi silakan mengkritik, ketika kita tau apa saja yang harus dilakukan sebelum mengkritik.

Selamat mengkritik dan dikritik.

Wallahu A’lam.

Medan. 23.00 WIB

Satu hari sebelum Ramadhan berakhir.





CINTA TANPA SYARAT

3 10 2008

CINTA TANPA SYARAT
Action & Wisdom Motivation Training

by : Andrie Wongso

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, “Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar.”

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. “Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,” kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. “Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan’. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,” kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, “Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita.” Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. “Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi…. kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.”

Nenek segera menimpali, “Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua.”

Pembaca yang budiman,
Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso
http://www.andriewongso.com





Met Idul Fitri…

2 10 2008

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Jika hati sebening air,
jangan biarkan ia keruh…
Jika hati seputih awan,
Jangan biarkan ia mendung…
Jika hati seindah bulan,
hiasi ia dengan iman…
Sebagai rasa syukur
menyambut Idul Fitri,
Walau jemari tak bisa menjabat,
Semoga kata dapat menjadi jembatan
Minal Aidzin Wal Fa’idzin
Mohon Ma’af Lahir & Batin
Taqobalallahu minna wa minkum…
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.