Besok Ramadhan Pergi

29 09 2008

Besok Ramadhan Pergi

By : arief

 

Malam ini hujan turun derasnya. Setelah itupun hujan tak langsung reda. Gerimisnya masih terus membasahi bumi. Malam ini adalah malam terakhir menikmati malam-malam Ramadhan. Malam yang terus ditemani lantunan firman Allah, deraian dzikir-dzikir panjang, linangan air mata para perindu syurga dan pahala di Ramadhan mulia.

Ah..rasanya sulit berpisah dengan Ramadhan ini. Ibadahku masih pas-pasan. Tak ada yang bisa dibanggakan dari ibadahku sebulan ini. Menyesal? Menyesal memang datang belakangan. Ketika semua tak mampu diraih, penyesalan pun hadir. Ia hadir begitu saja. Meski tak ada yang memintanya hadir.

Aku kadang berkhayal, bagaimana ya kehidupan Ramadhan para shahabat Rasulullah dulu? Kalau di luar Ramadhan saja mereka mampu menghabiskan AlQuran dalam 7hari. Lalu berapa lama mereka menghabiskan AlQuran dalam Ramadhan? Sulit dibayangkan. Bagaimana mereka menghabiskan hari-hari Ramadhannya dengan Ibadah yang takkan pernah dianggap biasa oleh orang sepertiku.

Ah…Ramadhan…

Besok engkau akan pergi ya?  Akankah kau kembali lagi menemuiku?

Ah…Ramadhan, malam-malammu kan banyak malaikat yang turun ke bumi. Tolong bantu aku meminta pada Tuhanku. Agar aku bisa menemuimu kembali tahun depan. Karena Cuma pada malam-malammu begitu banyak pahala yang diturunkan. Karena hanya pada malam-malammu, begitu banyak do’a-do’a yang dikabulkan.

Wahai sejuta malaikat yang turun malam ini. Malam ini masih Ramadhan. Ramadhan terakhir tahun ini. Dan kalian, makhluk Allah yang suci, yang tak pernah tertolak pintanya. Kumohon, bantu aku meminta pada Tuhanku. Agar DIA mengizinkanku bertemu dengan Ramadhan tahun depan.

Ah, air mata…kenapa engkau baru keluar sekarang? Saat Ramadhan hampir berakhir.

Ah, Jiwa…kenapa kau begitu tega membiarkanku melewatkan malam Ramadhan tanpa makna?  

Yaa Robb..izinkan aku menemui Ramadhan tahun depan ya?

 

00.25 WIB

Malam Ramadhan Terakhir, 1429H

Iklan




Pursuit of Happiness

27 09 2008

Pursuit of Happiness

by: Arief

Pernah nonton judul film di atas? Kalau belum, saya sarankan untuk menontonnya. Film ini diinspirasi dari sebuah buku dengan judul yang sama; Pursuit of Happiness. Film ini diperankan oleh Will Smith sebagai Chris Gardner.

Chris Gardner adalah seorang pria kulit hitam, penjual salah satu alat kedokteran. Setiap hari dia membawa-bawa kotak-kotak besar alat kedokteran itu untuk dijual ke rumah sakit. Tapi itu pula yang membuat ia dan isterinya bertengkar. Kotak-kotak besar itu tak mampu menghasilkan uang yang cukup untuk keluarganya. Sampai akhirnya isterinya pergi meninggalkannya, dan Chris harus merawat anaknya seorang diri. Persoalan hidupnya belum berakhir, setelah itu ia harus rela diusir dari rumah kontrakannya karena tak mampu membayar uang kontrakan.

Ia bersama anak laki-lakinya sampai tidur di toilet di sebuah stasion kereta karena tak memiliki tempat tinggal. Sekali waktu ia tinggal dengan para homeless lainnya, sambil terus menjual kotak-kotak besarnya. Masalah hidup seolah tak berhenti mengejarnya. Ia harus kehilangan kotak-kotak besarnya, dan mengejar-ngejar pencurinya. Walaupun akhirnya ia berhasil mendapatkannya.

Perjuangan hidupnya terus berjalan, ia harus berlari-lari dari kantor polisi mengejar waktu demi mendapat wawancara di sebuah kantor pialang saham. Hingga akhirnya dengan perjuangan kerasnya, ia berhasil menjadi salah satu pialang saham terkaya di Amerika.  Ia berhasil menjadi jutawan dan CEO sebuah perusahaan stockbroker ternama di Amerika yaitu Christopher Gardner International Holdings dengan kantor yang kini tersebar di New York, Chicago, and San Francisco.

Saya bukan sekadar ingin me-review film ini. Atau ingin mempromosikan film ini. Apa untungnya buat saya? Saya ingin menunjukkan pada antum untuk melihat dengan jelas. Sebuah kebahagiaan itu takkan pernah datang dengan sendirinya. Tapi ia harus dikejar. Ia harus diusahakan.

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menjadi saksi ketika Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Saya saksi dari salah satu calon yang akhirnya berhasil menang menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur. Ini bukan cerita tentang pemilihan gubernurnya. Ini cerita tentang saksi dari calon pasangan cagub lain yang duduk di sebelah saya. Namanya Aldi. Sepanjang waktu pencoblosan, kami bercerita tentang banyak hal. Mas Aldi banyak bercerita tentag pengalaman hidupnya.

Pengalaman hidup yang luar biasa. Pengalaman hidup yang diceritakannya, menurut saya jauh lebih dramatis daripada Chris Gardner itu. Mas Aldi pernah menjadi seorang pialang saham juga rupanya. Persis seperti Chris Gardner. Ia sudah mencapai puncak karirnya waktu itu. Punya mobil, punya rumah, barang-barang mewah dan lain sebagainya. Ia sudah sangat bahagia waktu itu dengan segala ketercukupannya.

Hingga suatu hari antara tahun 1997an, krisis ekonomi melanda Indonesia. Banyak perusahaan yang bangkrut. Dan ia jadi salah satu korbannya. Semua harta yang dimilikinya musnah. Ia bangkrut dan jatuh miskin. Salah satu temannya yang juga jatuh miskin bahkan sampai loncat dari jembatan penyebrangan, bunuh diri karena stress. Sejak itu ia menjalani profesi barunya sebagai gembel. Tidur di kolong jembatan, makan seadanya. Keluarganya yang mengetahui itu prihatin juga. Ia disuruh menempati rumah kosong milik pamannya. Setiap bulan ia mendapat jatah sekarung beras dari pamannya itu. Tapi hanya beras. Untuk lauknya ia harus mencari sendiri. Coba tebak apa yang menjadi lauknya? Kebetulan di depan rumah itu ada pohon belimbing. Dan..selama sekitar 3bulan ia makan nasi dengan belimbing sebagai lauknya!

Tapi ia sadar ia harus berbuat sesuatu. Lalu ia mulai merangkak kembali meraih masa depannya. Segala jenis pekerjaan dilakukannya. Sampai saat ia menceritakan cerita ini ia sudah punya sebuah perusahaan property bersama teman-temannya, dan satu buah Event Organizer.

“kalau saja saya tidak ingat punya iman waktu itu, saya sudah jadi penjahat sekarang!” katanya waktu itu. Saya tercenung mendengarnya. Persis seperti yang pernah dikatakan Rasulullah, “kefakiran itu sangat dekat kepada kekufuran.”  

Kebahagiaan itu takkan pernah datang dengan sendirinya. Ia harus diupayakan. Ia butuh keringat yang menetes, air mata yang mengalir, bahkan darah yang tertumpah.

Saya teringat yang dikatakan Chris Gardner kepada anak lelakinya, “if you have a dream..go get it!”  





Menikmati Proses…

21 09 2008

Menikmati proses…

by : Arief

Seringkali dalam kehidupan kita, kita ‘dipaksa’ untuk menunggu. Meskipun kita semua sepakat, menunggu adalah pekerjaan yang paling dibenci hampir sebagian besar manusia di muka bumi ini. Hanya orang yang punya alasan khusus yang bisa menyukai pekerjaan menunggu. Seorang pelajar yang sedang kelaparan dan menunggu bel pulang sekolah. Seseorang yang menantikan waktu pernikahannya. Seorang panitia yang menunggu ustadz yang akan mengisi acara. Tukang becak yang sedang menunggu calon penumpangnya.

Namun, ada sisi lain dari sebuah penantian yang memang wajib dilalui. Sisi lain itu sungguh wajib dilewati. Meski melewatinya bukanlah suatu pekerjaan mudah. Tapi semua sudah ada aturannya. Penantian itu tetap harus dilalui. Bahkan, jika kita memaksa untuk tak melewati penantian itu. Hasil yang kita nantikan tak akan pernah bisa dibanggakan.

Penantian itu kita namakan sebuah proses. Proses merupakan sesuatu yang mesti dilalui untuk mencapai sesuatu. Proses adalah perjalanan dari A menuju Z. Dari A takkan pernah mungkin bisa langsung mencapai Z, tanpa melewati B,C, D, E, dan seterusnya sampai X,Y lalu Z. Semua dilalui dengan langkah satu per satu. Untuk membuat suatu kata pun, semua harus dilewati dengan langkah yang satu per satu. Misalkan kata PRESIDEN. Untuk membuat kata itu, semua huruf harus disusun satu persatu dengan susunan yang benar. Pertama letakkan huruf P, R, E, lalu S,I kemudian D,E, dan terakhir letakkan huruf N di akhir kata. Semua huruf disusun dengan tepat. Kita tak bisa meletakkan huruf R dulu baru P, atau S dulu baru E. Kalau begitu, semua akan kacau. Dan kita takkan pernah mendapat kata PRESIDEN yang kita inginkan. Dan itu adalah proses.

Begitupun semua yang terjadi di dunia ini. Semua terjadi dengan proses bukan? Dalam satu hari ada satu momentum yang kita namakan Pagi, ada siang, ada sore dan ada malam. Untuk mencapai malam, kita harus rela melewati siang dan sore. Untuk mendapatkan siang, kita harus melewati pagi. Begitu seterusnya.

Coba lihat hujan! Pernahkah kita menyaksikan hujan langsung turun dengan derasnya tanpa memberikan sinyalnya pada kita? Tidak kan? Hujan mengirimkan sinyal mendung, angin, kilat dan terkadang petir sebelum ia turun membasahi bumi. Dan itu adalah proses.

Coba lihat Al Quran! Kitab suci kita itu telah mengajarkan begitu banyak ilmu pada kita. Berapa banyak Al Qur’an bicara tentang proses disana? Dua contohnya adalah penciptaan alam semesta dalam 6 masa, dan penciptaan janin dalam 40 hari menjadi ini, 40 hari menjadi itu. Apakah Allah SWT kurang hebat, sehingga menciptakan sesuatu dengan waktu selama itu?

Lihat bagaimana Rasulullah hidup, dan mengajarkan kehidupannya kepada kita. Apa Rasulullah, manusia hebat itu bisa menjadi begitu hebat dalam satu tepukan tangan? Atau dalam satu teriakan “abracadabra”.  Lalu, ‘crriingg..’ jadilah Rasulullah menjadi manusia yang superhebat. Begitukah? Tidak. Rasulullah telah melalui proses panjang untuk menjadi sehebat itu. Beliau sudah melewati fase-fase wajib yang harus dilewati sebagai syarat untuk menjadi hebat. Beliau dibelah dadanya oleh malaikat dan dibersihkan hatinya. Ikut perundingan politik dengan kakeknya. Ikut bisnis dengan pamannya. Mengembala domba. Ikut berperang. Menjadi negosiator.  Dan fase-fase kehidupan lain yang menjadi proses kreatif pembentukan kehebatan seorang Muhammad SAW.

Apakah sulit bagi Allah menciptakan alam semesta dalam sekali kejapan mata? Apa sulit bagi Allah menciptakan janin dalam waktu seminggu, sehari, atau bahkan sedetik? Apakah sulit bagi Allah menjadikan Muhammad manusia hebat dalam sekali penciptaan? TIDAK. Sama sekali tidak. Allah hanya tinggal bilang “KUN” Jadi! Fa Ya Kun..Maka jadilah. Maka jadilah apapun yang dikehendaki Allah. Allah tidak pernah lama dalam membelah laut merah dan menenggelamkan fir’aun kan? Allah tak pernah lama dalam menenggelamkan Qarun karena kecongkakannya kan? Allah tak pernah lama dalam melenyapkan kaum ‘Aad dan kaum Tsamud. Allah tidak pernah lama dalam membuat Tsunami, dan mengambil ribuan nyawa sekaligus bukan? Jadi tak ada sedikitpun kesulitan bagi Allah untuk melakukan semua itu.

coba liat kembali AlQuran…bahkan untuk statement pelarangan dalam AlQur’an pun, Allah melakukannya dengan cara step by step..selangkah demi selangkah..liat cara ‘cerdas’ Allah melarang khamr (miras). Allah nggak langsung ‘main’ bantai aja kan? Tapi Allah memulainya dengan “..laa taqrobusholaah..wa antum sukaaro..” Allah memulainya dengan.. “Jangan solat kalo lagi mabok!” nah, selanjutnya baru Allah memberi penegasan “JANGAN MABOK!”. Saat Allah memberi penegasan itu, seketika itu juga Mekkah banjir khamr.  Coba bayangkan kalau Allah langsung bilang “JANGAN MABOK!” saat pertama memberi pelarangan khamr. Bisa jadi hasilnya tidak akan maksimal kan?

Ada pelajaran yang ingin diberikan Allah dari Statement itu..

Allah ingin kita menghargai dan menikmati proses!  

Lihat seorang pelukis. Adakah yang membuat lukisan indah, tanpa melalui sapuan kuas pertamanya? Tidak! Ia harus memberi warna ini, warna itu, bentuk ini, bentuk itu. Sehingga akhirnya bisa menjadi lukisan yang ‘hidup’, yang menawan setiap orang yang menatapnya. Dan itu adalah proses.

Coba lihat JK.Rowling, Andrea Hirata, Habiburahman el Shirozy! Apa Harry Potter, Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta tercipta begitu saja? Tidak! Mereka harus melewati proses panjang untuk menjadi seperti sekarang.

Coba lihat pendiri GE, penemu bola lampu pertama, Thomas Alpha Edison. Apa dia menciptakan lampu dengan sekali percobaan? Tidak! Ia menghabiskan begitu banyak umurnya untuk melakukan 9999 kali percobaan, dan semuanya gagal! Berhentikah ia? Tidak! Ia sadar sepenuhnya, bahwa kegagalannya itu adalah sebuah proses. Dan sekali lagi percobaan, ia pun berhasil.  

Coba lihat Bill Gates, manusia yang diklaim punya uang yang jauh lebih besar daripada APBN Republik Indonesia itu. Apa dia mendapatkan kekayaannya seperti hujan yang turun dari langit? Tidak kan? Dia meraihnya dengan keringat dan air mata. Dia mendapatkannya dengan pengorbanan yang luar biasa besar.  

Atau, kalau kita lupa..coba lihat Negara kita tercinta ini. Kemerdekaan yang dulu diraih oleh para pahlawan, apakah begitu saja diberikan oleh para penjajah? Tidak. Para pahlawan itu harus menebusnya dengan keringat, air mata, bahkan darah yang harus tertumpah demi pembebasan tanah air tercinta.

Atau..kita perlu contoh lain? tentang mereka yang masih menikmati prosesnya?

Coba lihat Palestina! Mereka adalah salah satu contoh nyata yang masih menikmati prosesnya. Menikmati proses menuju Palestina merdeka. Tersiksa kah mereka? Sedihkah mereka? Tidak! Mereka sadar dengan sepenuh hati bahwa mereka sedang menjalani dan menikmati proses. Mereka sudah tau hasil akhirnya. Palestina merdeka, dan Israel binasa. Itu kan yang dijanjikan Rasulullah? Jadi tugas mereka sekarang adalah berjuang lebih keras, dan menjemput takdir mereka. Mereka berjuang keras sampai syahid atau…mereka berjuang keras sampai Palestina merdeka. Mereka menjemput salah satu takdir itu.

Nah, sekarang masalahnya, sejauh mana kita menghargai  dan menikmati proses?

Menghargai dan menikmati proses itu berbanding lurus dengan menghargai dan menikmati kerja keras, ketekunan, kreativitas, tangan yang bekerja lebih banyak dari biasanya, mata yang terjaga lebih lama dari biasanya, dan hati yang jauh lebih keras daripada baja. Seperti itulah menghargai proses. Seperti itu juga menikmati proses.

Jadi, sudahkah kita menghargai dan menikmati proses kehidupan kita ?  

 

(beuh! Serius banget yak! Udah kayak Anis Matta aja gue. Yang bikin menikmati demokrasi. J)

***

 





Jalur Negeri VS Jalur Swasta

18 09 2008

Jalur Negeri VS Jalur Swasta

by : Arief

Awalnya aku bingung harus menuliskan apa. Masalahnya bukan karena tak ada bahan yang akan kutuliskan. Tapi justru karena terlalu banyak bahan di otakku yang harus segera ditumpahkan ke computer.

Akhirnya kupilih satu bahan yang kurasa paling penting untuk diperbincangkan dan didiskusikan. Karena masalah ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Tapi bukan WC umum loh!

Keinginan untuk mengangkat masalah ini bermula dari obrolan semalam dengan teman-teman dan adik kelas ketika di SMA dulu. Semalam aku hadir di undangan adik kelasku yang akan meng-akikah-kan anaknya yang baru lahir. Mereka berdua, suami-isteri adalah adik kelasku. Yudi, si suami adik kelas satu angkatan dibawahku. Sedangkan May, isterinya, adik kelas dua angkatan dibawahku. Awalnya obrolan ini tak melibatkan Yudi. Karena dia sibuk meladeni tamunya yang lain.

Aku ngobrol bareng Nisa dan Suci. Nisa teman seangkatanku, dan Suci adik kelas dua tahun dibawaku. Seangkatan dengan May. Awalnya aku iseng nanya dia kuliah dimana? Tinggal dimana? Asal darimana? Bla…bla…blaa.. lama-kelamaan ngobrol dengan mereka jadi lebih seru. Ngobrolin tentang tulis menulis. Dari obrolan itu aku baru tau kalau si Nisa itu salah satu anggota dari FLP Medan. Wah, aku baru tau ada FLP Medan. Tadinya aku juga ingin masuk FLP, tapi sekarang keinginan itu menguap entah kemana. Mungkin karena aku punya masalah pribadi dengan salah satu personilnya di Bandung. Tak perlu kuceritakan disini. Dari obrolan itu juga aku tau bahwa si Suci itu orangnya rame. Nggak jaim.

Lalu aku iseng lagi nanya ke Suci, “setelah kuliah mau kemana Ci?” tanyaku

“ nunggu lamaran “ katanya. Kalo konteksnya ngelamar kerja, brarti nggak pake kata nunggu donk? Dan bukan begitu struktur kalimatnya. Ya nggak?

“ HAH, APA?” kaget juga aku mendengarnya. Tapi kuulangi lagi pernyataannya dan kuganti jadi pertanyaan. “Menunggu lamaran?” tanyaku. Dia ketawa. Dia bilang “Nggak..nggak..becandaaa..”

“ kenapa harus menunggu?” tanyaku. Kuulangi lagi pertanyaanku. “kenapa akhwat harus selalu menunggu?” lalu kutambahi lagi “kenapa nggak menunjuk duluan?”

Terus dia bilang..”malu lah!” sambil ketawa.

Aku juga ketawa. Aku pengen bilang bahwa proses pernikahan Rasulullah dengan Khadijah aja dimulai dari ke-proaktif-an Khadijah yang mencari tahu tentang Muhammad, lalu meminta pamannya untuk melamarkan Muhammad untuknya. Begitu kan yang dilakukan Ummul Mukminin Khadijah?

Tapi yang keluar malah.. “kayak Aisha di film ayat-ayat cinta..yang duluan kan Aishanya?” aku juga bingung kenapa jadi kalimat itu yang keluar ya? Padahal aku nggak ngefans-ngefans amat tuh sama filmnya. Kalo sama novelnya sih iya..aku udah khatam 6kali baca novenya! hahaha.. 

***

Obrolan itu berlanjut. Si Suci bilang begini..”Uci ga terlalu sreg kalo harus lewat MR..” dan di aminkan sama Nisa. Kalau si Nisa, aku nggak meragukan lagi. Dia itu satu spesies denganku. Pembangkang sejati!

Lalu opini kami pun berloncatan mengenai proses pra nikah yang lewat jalur negri (via pembina) atau lewat  jalur swasta (non via pembina).

“ iya..masak harus lewat MR, kan yang mau nikah kita..”

“ kalo yang ditawarin sama MR ga sreg, masak harus diterima juga..?”

“nanti kalo nggak lewat MR pasti di bikin ribet urusannya..”

Dan banyak banget komentar-komentar mereka yang intinya nggak sepakat dengan jalur negri. Tak lama kami ngobrol, si Yudi, sang tuan rumah ikut nimbrung ngobrol dengan kami jadi makin rame dah! Si Yudi ngasi contoh lain ; ada seorang ikhwan yang menunjuk seorang akhwat. Sang pembina kurang setuju. Karena calonnya nggak dari dia. Lalu si ikhwan nantangin si pembina “apa alasan saya untuk menolak dia? Agamanya bagus, keturunan baik-baik, cantik nggak ada alasan kan?” si pembina Cuma diam.

Aku Cuma mendengarkan mereka ngasi komentar sambil sesekali ngasi komentar juga yang intinya mengiyakan komentar –komentar mereka. Kemudian si Suci nanya..”kalau ada temen yang nawarin, trus gimana bang? Masalahnya Uci lebih sreg kalau ditawarin dari temen.”

Aku jawab aja “yaa..kalo emang mau gitu, udah aja setelah dari temen, langsung ke orang tua. Baru nanti kasi info ke MR. Ini calon dari orang tua..” si Suci ngangguk-ngangguk. Ditambah lagi sepulang dari acara itu, saya dapat SMS dari seorang teman, kakaknya mau proses dengan seorang ikhwan. Pembina kakaknya sudah setuju. Tapi masalahnya ada di pembina si ikhwan. Kelihatan banget dia melambat-lambatkan dan mengulur-ulur proses itu. Padahal orang tua mereka udah sama-sama setuju. Sehingga sekarang si Akhwat bingung, si Ikhwan itu serius nggak sih?

Atau kasus lain. Seorang ikhwan dan akhwat yang berproses tak melewati jalur pembina (lewat teman/ortu), si pembina tak mau mengurusi prosesnya, bahkan tak mau hadir saat diundang ke pernikahan binaannya. Lebih parahnya dia jadi provokator supaya binaannya yang lain tak hadir di acara nikahan itu. Di boikot istilahnya. (padahal setahu gue yang diboikot itu kan Cuma produk Amerika dan Israel ya?)

Begitu deh fenomena yang ada di kalangan para pembina itu, saat akan menikah, si binaan harus bin wajib ikut aturan pembina. Dengan alasan “ini manhaj jama’ah!” padahal entah kapan masyaikh da’wah ini membuat aturan seperti itu. Ustadz Hilmi saja pernah bilang langsung “kapan pula saya pernah mengajari bahwa kalau nikah harus lewat MR?” lha, kalo bos nya aja bilang gitu, siapa pula orang sok tau itu???

Mereka (para pembina) seolah-olah sudah memiliki hidup sang binaan sepenuhnya. Mengalahkan hak milik yang dimiliki oleh orang tua. Padahal paling lama dia membina sang binaan 5tahun. Sedangkan orang tua itu sudah membina sejak dalam kandungan!!! Lalu dimana sisi kepemilikan sang pembina tadi dibandingkan orang tua??

Okelah. Mungkin mereka adalah para asatidz yang memberikan ilmu bagi para binaannya. Mereka para pembina dan pembimbing menuju Allah lewat jalan Da’wah yang mulia. Kita nggak menafikan itu. Kita sadar sepenuhnya bahwa mereka adalah jembatan hidayah dari Allah menuju kita. Mereka adalah contributor terbesar sehingga kita jadi seperti sekarang ini. Oke, kita terima itu. Tapi untuk urusan kehidupan pribadi, nikah misalnya, apa mereka perlu meng-intervensi kita sampai 100%. Nggak kan? Yang mau nikah kan kita!

Lagian, seorang ustadz pernah bilang “Para pembina itu seperti nggak tau syariat saja. Yang jelas jadi wali itu kan orang tua, yan berhak menikahkan anaknya. Kalau orang tua sudah setuju, kenapa harus dihalang-halangi? ”

Apalagi sampai nggak hadir dan memprovokasi orang lain supaya nggak hadir di acara nikahan orang yang di boikot itu. Aneh kan? Salah satu kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lainnya kan ; menghadiri undangan dari saudaranya. Iya kaaan?? Itu yang diajarkan setiap pekan kan? Lalu dimana semua materi itu?

Jadi, menurutku Cuma ada 1 penyebab utama masalah klasik ini terus berulang :

Ilmu & pemahaman yang tanggung dari para pembina. Dan itu fatal akibatnya. Ini akibatnya :

          Sehingga mereka hanya meniru apa yang sudah dilakukan oleh para seniornya. Kalau seniornya bilang “kader militan itu kalau pilih calon isteri/suami harus tutup mata! Biar ikhlas. Memangnya kalo udah merem pasti ikhlas? Terus kalo dia nggak bisa sayang sama isteri/suaminya nanti salah siapa? Kan merem waktu milihnya.

          Kalo terus terjadi seperti itu, para pembina bisa-bisa buat dalil baru. Atau bikin syariat baru. Kalo nggak ada orang tua atau wali, bisa digantikan sama pembina untuk ijab qabul. Lucu kan?

          Bakalan banyak orang yang terzholimi karena aturan-aturan yang nggak jelas juntrungannya itu. Mereka tertunda terus untuk menikah,sedangkan umur terus nambah.

          Dan mungkin antum punya jawaban sendiri…   

Terakhir aku bilang sama Suci, ” kalau pun kita nggak mau dipilihkan sama MR, sebaiknya kita serahkan proses nya pada MR..gimanapun juga, kita adalah satu keluarga besar..”

 Dan yang namanya keluarga, sebaiknya satu masalah anggota keluarga ikut dirasakan sama anggota keluarganya yang lain. Apalagi kepala keluarga. Dia harus tau apa aja yang terjadi sama anak-anaknya. Begitu kan?

Jadi kayaknya nggak boleh ada pemaksaan di dua jalur itu. Yang mau jalur swasta silakan. Selama masih menghargai jalur negeri. Ingat kita satu keluarga! Yang mau jalur negeri, tafadhol, selama kalian menggunakan ilmu dan kesadaran penuh untuk memilih. Oya, milih fotonya jangan merem! (yang swasta juga sih!) dan bukan sekadar AMS (Asal MR Senang). Ingat, ente yang mo nikah. Dan itu akan berlangsung sampai ente diajak jalan-jalan sama malaikat Izrail. Suatu hari nanti. Bukan sebulan dua bulan ente mau nikah. Tapi selamanya!

So, Jalur swasta atau jalur negeri ? it’s All up to You! 

 

NB: Ehm..Sorri ya buat para Pembina yang membaca dan merasa tersindir dengan tulisan ini. Atau yang nggak sepakat dengan ide ini. Gue hanya ingin mengembalikan suatu masalah pada asholahnya. Sehingga kita nggak jadi orang yang berlebihan. Innallaha laa yuhibbul mu’tadiin..

Sekali lagi sorry very much much hota hay (maksudnya kuch kuch hota hay-judul film india- red) hehehee…    





Bercermin dari anak-anak Intifadhah…

17 09 2008

Bercermin dari anak-anak Intifadhah…

 

 

Ramallah – Infopalestina: Pada saat kelompok usia anak-anak di seluruh dunia mengalami kebebasan dan ‘dimanjakan’ karena dianggap tulang punggung masa depan, serdadu penjaja Israel justru terus menangkapi ratusan anak-anak Palestina menjebloskannya dalam penjara. Israel menolak kesepakatan internasional apapun soal ini.

Lembaga Waid untuk Tahanan di Palestina menegaskan, pemerintah penjajah Israel pernah menangkap dan menahan lebih dari 3500 anak sejak Intifadlah. Kini mereka masih menahan 340 yang tersebar di penjara-penjara yang ada. Tujuh di antara mereka anak-anak perempuan yang masih kecil dengan kondisi yang sangat memperihatinkan. Jumlah itu terbagi sebagai berikut; 104 anak di penjara Talmud, di Auvar 80 anak , di Naqab 38 anak, di Magedo 45 anak, dan sisanya di pusat-pusat investigasi Israel. Disamping itu adalah 312 anak yang sudah divonis dengan hukuman dan 107 masih menunggu vonis dan 10 anak ditahan dengan status tahanan adimistrasi.

27 dari mereka berusia 15 tahun kurang, dua tahanan belum berusia 13 tahun, 150 ditahan sebelum usia 18 tahun dan 99 persen mereka mengalami siksaan minimal kepalanya dibungkus kantung, dipenteng dan dipukul.

Secara resmi Israel membolehkan menangkap anak di bawah umur 16 tahun. Ini bertentangan dengan konvensi internasional pasal 1.

Lembaga Waid menegaskan bahwa Israel tidak memperhatikan kesehatan anak-anak Palestina yang mereka tahan. Semua penyakit yang dialami oleh tahanan Palestina diobati dengan Akamol.

Kondisi yang dialami oleh anak-anak tahanan Palestina itu sangat memperihatinkan sebab bertentangan dengan konvensi internasional berupa kurangnya makanan, pakaian, kebersihan, banyaknya serangga, penuh sesak, tidak ada tempat mainan dan menghibur, diisolasi dari dunia luar, dilarang dikunjungi oleh keluarga dan lain-lain. Ini bertentangan dengan undang-undang internasional perlindungan anak di pasal 16.

Dua bulan lalu seorang anak Palestina berusia 17 tahun ditangkap Israel dari rumahnya dengan ditutup matanya dan dibawah ke permukiman Maalih Admim. Di sana ia disiksa dengan ditampar wajahnya berkali-kali hingga tersungkur ke tanah. Kemudian Israel memukulinya dengan tongkat. Hal ini berlangsung hingga berjam-jam.

Lebih dari itu, wajah itu kemudian distrum dengan listrik hingga wajahnya gosong yang membekas hingga sekarang. Tidak sampai di situ, Israel mengancam akan melepaskan anjing galak kepadanya. Ketika anak itu menyatakan sakit, seorang serdadu Israel memukul kakinya.

Lembaga Waid meminta kepada Organisasi Anak milik PBB (UNECEF) dan Palang Merah Dunia serta lembaga HAM lainnya untuk bertanggungjawab atas kondisi anak-anak yang ditahan Israel yang bertentangan dengan kesepakatan Jenewa IV. Lembaga Meminta agar masalah pembebasan tahanan Palestina dari penjara Israel menjadi prioritas. (bn-bsyr)

 

***

Hmm…gimana? Ada komentar? Yang jelas, aku melihat ketimpangan yang begitu besar antara anak-anak Palestina dengan anak-anak Indonesia. Di Indonesia, anak-anak kecil dibesarkan dengan fasilitas yang lengkap (meskipun ada juga yang terbatas), dibesarkan dengan cukup cinta dan kasih sayang orangtuanya. Dibesarkan dengan keindahan dan kenyamanan.

Tapi, di belahan dunia yang lain, di Palestina sana, kondisinya berbeda 180°. Anak-anak Palestina itu hidup dengan keterbatasan yang sangat mereka sadari. Mereka pun menyadari sepenuhnya, mereka takkan pernah lagi mendapat cukup cinta dan kasih sayang dari orangtuanya. Karena kedua orangtuanya telah lama syahid diterjang peluru-peluru Israel. Atau mungkin telah lama mendekam di dingin dan kejamnya penjara-penjara Israel. Dan mereka pun sangat sadar bahwa hidup mereka sama sekali tak indah dan tak nyaman.

Hari-hari mereka dipenuhi ancaman dan terror. Menghindari peluru-peluru yang ditembakkan dari laras panjang serdadu-serdadu Israel La’natullah ‘alaih. Menghindari tangkapan tentara Yahudi itu. Gentarkah mereka?

 Jawabnya TIDAK!

Mereka lebih khawatir kalau mereka tertangkap. Bukan! Mereka bukan takut tertangkap karena takut disiksa. Sama sekali bukan. Bahkan mereka lebih menginginkan mati daripada harus tertangkap Israel. Mereka tak ingin tertangkap karena kalau mereka tertangkap, mereka akan tidak produktif lagi. Mereka tak akan produktif lagi melawan tentara-tentara Yahudi itu. Mereka takkan lagi bisa melukai dan membunuh tentara Yahudi itu dengan lemparan batu dan molotovnya. Karena mereka ada di balik jeruji. Mereka lebih memilih mati. Karena dengan begitu, mereka akan jadi motivator dan inspirator utama bagi kawan-kawannya yang lain.

Sedihkah mereka ketika ada kawannya yang mati?

Jawabnya TIDAK!

Mereka justru sangat senang. Karena Syahid bagi mereka adalah segelas jus jeruk dingin di tengah terik padang pasir. Sesuatu yang jauh lebih berharga daripada segudang emas sekalipun.

Antum mungkin pernah melihat film tentang pengorbanan anak-anak Palestina dengan darah (saya lupa judul aslinya…) ya pokoknya itulah. Ada seorang anak yang diwawancarai tentang syahidnya Faris Audah, salah satu temannya. Terus dia Cuma bilang ”Alhamdulillah, Allah telah mengaruniainya kesyahidan..”

Sama sekali nggak ada kesedihan disana. Hanya kalimat syukur yang terlontar dari bibirnya. Mereka senang karena salah satu temannya sudah resmi jadi salah seorang penduduk surga. Sedangkan mereka masih menunggu-nunggu gilirannya.

Begitulah, meskipun ketidakenakan yang ada pada mereka, tapi mereka menyadari bahwa begitulah jalan hidup yang ditakdirkan Allah. Dan mereka sangat bersyukur dengan itu.

Saya jadi teringat salah seorang sahabat di zaman Rasulullah. Namanya Usamah bin Zaid. Usianya belum lagi genap 18tahun. Tapi prestasi yang ditorehkannya melebihi orang-orang yang berusia jauh lebih tua darinya. Di usia belia seperti itu, Zaid sudah dipercaya memegang amanah sebagai panglima perang dengan ribuan pasukan yang sangat loyal.

Sepertinya saya harus mengambil kesimpulan. Ternyata kondisi kehidupan keseharian, berpengaruh banget pada p

embentukan karakter kita. Coba lihat anak-anak Palestina itu. Diusia sangat belia mereka harus menanggung beban hidup yang luarbiasa berat. Sehingga mereka dipaksa berpikir keras, berpikir cerdas, berpikir dewasa, supaya mereka bisa menggapai cita-cita mereka; Palestina merdeka, atau syahid lalu masuk Surga. Sederhana kan? Dan terbukti, mereka mampu menunjukkan pada dunia, dengan kondisi tertekan seperti itu mereka masih bisa melawan. Secara fisik atau secara intelektual. Jangan kira tak ada orang berpendidikan di Palestina sana!

Justru, dari informasi yang saya dengar, Palestina termasuk penyumbang Doktor paling banyak di timur tengah. Hebat kan? Dengan kondisi tertekan seperti itu, mereka bahkan bisa membuat rudal sendiri,dengan segala keterbatasan Sumber daya. Mengharapkan bantuan dari luar untuk bikin rudal? Mustahil. Jangankan bahan-bahan untuk bikin rudal, makanan saja diisolir oleh Israel.

Sekarang, coba liat anak-anak Indonesia! Anak-anak Indonesia terlalu banyak dijejali kartun, playstation, sinetron, sampai infotainment yang jelas tak layak untuk mereka konsumsi. Berapa banyak yang sadar bahwa hidup adalah perjuangan. Tak ada! Karena orangtuanya pun tak pernah mengajari mereka untuk itu. Kalaupun ada yang menyadari bahwa hidup adalah perjuangan, maka mereka pasti sudah berumur lebih dari 20 tahun.

Sehingga wajar saja, kalau anak-anak Indonesia begitu lambat perkembangan kedewasaannya. Saya tak hendak menyalahkan keadaan. Kondisinya memang sudah diatur dari sananya. Allah memang menakdirkan anak-anak Palestina untuk lebih cepat dewasa, lebih cepat matang, lebih berani dan seterusnya. Dan anak-anak Indonesia kebalikannya. Tapi bukankah kita tak boleh menyerah pada keadaan?

Minimal bagi diri kita sendiri. Ketika punya anak nanti, ajari anak kita untuk jadi seperti anak-anak Intifadhah itu. Ajari anak kita untuk berani menunjukkan prestasinya pada dunia. Sehingga ketika beranjak dewasa nanti, mereka akan jadi Usamah bin Zaid yang baru,Izzzudin Al Qossam, Abdullah Azzam, Faris Audah,Imad Aqil, Yahya Ayyash, AR-Rantisi, Hasan AlBana, dan seluruh pejuang Islam yang berhasil menorehkan tinta sejarah kepahlawanan mereka pada lembar sejarah umat manusia.

Gimana, sudah siap?     





Selembar Potret indonesiaku…

16 09 2008

Selembar Potret indonesiaku…

By : Arief

Sedih, lucu, dan Ironis..mungkin itu kata-kata yang bisa mewakili perasaanku ketika melihat insiden Pasuruan hari ini (15September2008). Sekitar 21 orang harus merelakan nyawanya demi mendapat uang Rp.30ribu.

Ceritanya ada seorang dermawan yang akan membagikan zakat kepada fakir miskin di daerah Pasuruan sana. Setiap orang mendapat jatah uang sebesar Rp.30ribu. Siang tadi sekitar jam10an, ribuan orang sudah berkumpul di depan rumah sang dermawan. Tapi ternyata takdir berkata lain. Zakat belum dibagikan musibah sudah terjadi. Ribuan orang yang berdesakan itu akhirnya harus menelan kekecewaan. Bukan hanya karena nggak dapet uang Rp30ribu nya, tapi juga kehilangan teman, ibu atau saudaranya yang ikut mengantri zakat.

21orang tewas dalam insiden pembagian zakat itu. Dan banyak yang lainnya harus pingsan karena terinjak, kepanasan, dan kurang oksigen. Ya iyalah..kebayang nggak sih, orang lagi puasa malah panas-panasan, desak-desakan seperti itu. Ya udah selesai!

Cerita itu terjadi di Negara Indonesia kita tercinta ini loh! Asli. Bukan rekayasa. Bukan infotainment!

Lucu kan? Masak di Negara yang udah 63tahun merdeka ini masih ada aja orang yang rebutan gara-gara uang Rp 30ribu?

Sedih..ternyata ada begitu banyak orang sangat mengharapkan uang Rp.30ribu yang dibagi secara Cuma-Cuma. Mereka mempertaruhkan nyawanya dengan uang Rp.30ribu itu. Ck..ck.

Ironis…di negeri indah dan kaya raya ini, masih ada ribuan orang miskin ternyata. Begitu besar ternyata kesenjangan social antara orang kaya dan orang miskin di negeri ini. Ada orang kaya yang membagi-bagi uang Rp.30ribu pada ribuan orang miskin, sementara ribuan orang miskin sambil berebutan mengharap pemberian itu.

Lalu siapa yang salah ?

Sebenarnya bingung juga kalau mau mencari kambing hitam dalam insiden ini. Karena pastinya semua orang tak mengharapkan kejadian ini terjadi.

Sang dermawan…jelas ia juga tak mau disalahkan. Toh ia pasti bilang “pembagian zakat itu udah berjalan sejak tahun 70an loh pak! Dan selama ini, aman-aman saja tuh.”. meskipun banyak juga orang yang kurang setuju dan menentang teknis pembagian zakat itu. Kalau boleh diibaratkan, mengumpulkan buaya-buaya kelaparan lalu memberi seekor ayam pada mereka, sama aja dengan membunuh buaya-buaya itu secara nggak langsung. Karena jelas mereka akan rebutan.

Banyak yang berpendapat, kenapa sih nggak menyalurkan zakatnya lewat institusi zakat? Ada banyak lembaga zakat yang cukup credible hari ini. Katakanlah, Rumah Zakat Indonesia, Dompet dhuafa, Dompet peduli umat, Pos keadilan peduli Umat, dan banyak lagi. Secara teknis, jelas jauuh lebih save dibandingkan dengan mengumpulkan massa seperti itu. Meskipun ada juga yang bilang, meskipun agak bernada suuzhon, mereka bilang begini..”mungkin aja yang punya uang itu nggak ikhlas,dan ada unsur riya..jadi Allah marah!” ya kalau mau bersuuzhon bisa aja punya komentar seperti itu.   

Entahlah…aku bingung! Yang pasti begitulah ceritanya. Dan itulah selembar potret Negara kita. Selembar potret Indonesiaku…

 

 

 





Lebih lengkap tentang PKR SMK Telkom -3-

15 09 2008

by : Arief

PART 3

Jum’at  12 September 2008.

Hari ketiga PKR. Tadinya aku mau pakai motor ke sekolah. Tapi motor di pake adikku ke kampus. Katanya pulang jam 12. Padahal paginya si Anggi nelpon, katanya jam 10.30 aku harus udah ada di sekolah. Ada materi yang harus kuisi. Akhirnya kubela-belain pergi pake becak motor, terus ntar pergi bareng sama Om ku ke wartel yang dijaganya. Dari situ motornya kupinjam ke sekolah.     

Sampai disekolah, aku lihat ada sebuah motor dengan stiker bergambar padi dan bulan sabit kembar. Terus ada tulisannya ‘P*S’ parkir dengan manisnya di depan pintu masuk. Pede banget!                                              Dari dulu aku memang paling gerah kalau ada embel-embel partai masuk ke wilayah sekolah. Aku langsung caritau siapa pemilik motor itu. Kubilang, “bilang sama yang punya motor, parkirnya di sana!”  aku menunjuk tempat parkir. Aku masuk ke dalam kelas. Forum akan segera dimulai. Aku ngisi fiqih. Materi yang paling sulit untuk diajarkan menurutku. Karena memang paling jarang diajarkan di pertemuan pekanan. Iya kan??? Ngaku deh!!!

Daripada bingung jelasin, aku ajak diskusi aja tentang fiqih shaum. Anak-anak lumayan kritis. Ada yang nanya “bang, gosok gigi hukumnya gimana?” aku bilang gak apa-apa. Terus ada yang nanya lagi “berarti makan permen karet/happydent white gak apa-apa dong bang, kan nggak di telan bang?” pusing, pusing dah lo ngejawabnya! Pas ngobrol sama pemateri lain, mereka juga sama ditanyain gitu. Hahaha..

Setelah Jum’atan harusnya aku nggak ada jadwal lagi. Karena dari awal di kontak si Anggi untuk ngisi materi, aku Cuma kebagian dua aja. Fiqh shaum sama jadi moderator untuk materi Personal Excellent. Tapi lagi-lagi hari ini aku harus kebagian jadwal dadakan. Panitia nyamperin aku, dia bilang.. “Bang, abang ngisi materi Birrulwalidain ya? “ aku nggak tau apakah pemateri sebelumnya nggak datang, atau karena nggak dapat, atau memang mereka sengaja ngerjain aku!

Akhirnya kuiyakan saja. Akupun naik ke lantai tiga lalu masuk ke forum 1. Aku mulai dengan bilang ke adik-adik peserta bahwa aku belum ada baca materi birrulwalidain secuilpun. Jadi secara jujur dan gentleman aku bilang sama mereka, bahwa aku akan mendongeng. Dan tanpa meminta persetujuan dari mereka aku pun mulai mendongeng.

Syukurnya, mereka nggak menganggap dongengku itu sebagai dongeng pengantar tidur siang. Padahal enak banget tuh. Jam 2 siang, cuaca panas, lagi puasa, terus diiringi dongeng dari orang paling ganteng sedunia, trus ada angin sepoi-sepoi…mendukung banget untuk tidur siang.

Setelah nggak terlalu panjang dan enggak terlalu lebar ngobrol, akhirnya aku berpesan pada para peserta.

“adek-adekku yang kusayangi…ini adalah PKR pertama dan terakhir kalian sebagai peserta. Tahun depan kalian mungkin akan ada yang jadi panitia. Jadi jangan sia-siakan kesempatan sekali seumur hidup ini. Keluar dari PKR ini kalian harus jadi orang yang lebih baik dari hari ini…bla..blaa..blaa” aku menjelma menjadi sosok manusia ganteng yang sangat bijaksana. Huahahaha..

Jam5 sore aku pulang. Karena aku janji sama om ku untuk pulang bareng. Sampai di wartel aku harus menunggu. Karena partner jaga wartelnya nggak dateng hari itu. Setelah beberapa lama. Aku pulang juga. Ditemani sama seorang tukang becak motor yang disuruh om ku untuk nganterin aku. Kupikir baik juga tukang becak ini mau mengantarkanku. Sepanjang perjalanan pulang, kami diiringi dengan derasnya hujan yang mengguyur dan jalanan yang macetnya minta ampun. Ampuunn..ampuuuunn…

Aku minta diantar sampai counter pulsa-nya babeh. Ternyata disana udah ada nyokap en bokap nunggu anaknya yang tampan ini. Setelah say thanks pada tukang becak tadi, akupun pulang sama ortu pake mobil.

Malamnya aku balik lagi ke sekolah. Setelah agak ragu-ragu juga minta izin ke ortu untuk mabit di sekolah. Aku bilang ini malam terakhir, ada penutupan dan lain-lain. Trus aku juga udah janji sama teman-teman bahwa aku akan datang lagi. Akhirnya lobi yang kulancarkan berhasil juga. Aku on the way pake motor ke sekolah.

Sampai sekolah sekitar jam10 malam. Aku ketemu dengan beberapa orang temen seangkatan yang datang malam itu. Selain Anggi, ada Annisa dan Irfaan yang datang. Si Irfaan datang bersama gandengannya, tapi bukan isterinya. Aku pikir “peduli juga nih orang sama sekolah..” baguslah. Setidaknya aku bias melihat orang yang belum ‘terbina’ pun punya kepedulian pada sekolah. Nggak seperti alumni lain yang udah ‘terbina’ lama tapi nggak mau peduli dengan sekolah. Nanti kuceritakan masalah ini.

Setelah acara selesai ada evaluasi antara panitia, instruktur dan alumni. Aku masih banyak diam. Biasalah, kalau di film india kan, pemeran utamanya terakhir-terakhir menangnya. Hehe. Selama perbincangan evaluasi itu, aku kok merasakan mereka saling menyalahkan. Seksi ini beginilah, seksi itu begitulah..dan sebagainya. Akhirnya aku minta sama akh Rudy untuk bicara.

Berikut petikan pidatoku  (hahaha…pidato kayak presiden aja!) :   

“ assalamualaikum warohmatullah…adek-adek yang abang sayangi, ini adalah PKR pertama abang sejak lulus SMA yang bisa abang hadiri. Jadi abang mungkin nggak bisa membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi kalau mau membandingkan dengan PKR ketika abang jadi peserta atau panitia sekitar 8tahun yang lalu..PKR yang kalian adakan ini jaaauuuuhh lebih baik dari waktu zaman abang dulu. Kalian sebagai panitia nggak pernah kan membangunkan peserta dengan rantai besi besar yang dipukulkan ke meja? Abang sempat merasakan itu. Senior yang jadi panitia waktu itu membangunkan peserta dengan rantai itu. Pengelolaan yang lain, kalian juga jauh lebih baik. Konsumsi, alat dan lain sebagainya, sudah kalian siapkan dengan sangat baik. Waktu zaman abang dulu, kami masih pakai kayu bakar untuk masak. Belum lagi harus mengganti alat-alat yang rusak. Luar biasa berat.

Jadi..nggak perlu saling menyalahkan. Abang yakin masing-masing dari kalian sudah melakukan kerja terbaiknya untuk PKR ini. Kerja kita ini bukan Cuma kerja satu dua orang. Tapi kerja kita ini kerja team. Untuk yang kelas dua, tahun depan antum yang akan jadi panitia. Antum harus mencatat apa aja yang perlu diulang dan nggak perlu diulang dalam PKR ini. Jadi antum akan bisa melakukan yang jauh lebih baik dari kerja panitia tahun ini.

Kawan-kawan, adek-adek..kalau boleh dibilang kerja kita hari ini adalah kerja dakwah. Yang apabila adek-adek yang jadi peserta itu ada yang berubah dan jadi lebih baik dari hari ini. Maka kita akan dapat pahala yang kata Rasulullah, pahalanya jauh lebih besar daripada dunia dan seisinya, atau juga lebih mahal daripada unta merah. Unta merah adalah kendaraan paling berharga pada zaman itu..

Semoga Allah menerima kerja kita selama beberapa hari ini dan membalasnya dengan kebaikan yang setimpal dengan kerja kita. Wallahu a’lam bishshowab. Assalamualaikum warohmatullah..”     

Demikian pidato dari bapak presiden…

Hahaha…serius banget yak!

Setelah evaluasi dengan panitia, kukira sudah akan bubar. Ternyata Cuma panitianya aja yang bubar. Instrukturnya malah ngadain ‘syuro’ lagi coba! Padahal tadi mereka yang bilang..”udah malem..” aku Cuma geleng-geleng aja melihat ‘semangat’ mereka membahas follow up dari PKR itu. Aku nggak ikutan. Cuma tidur-tiduran aja bareng panitia di ruangan yang sama dengan mereka. Cuek aja lah. Senior gitu loh! Siapa berani marah? Gue jitak ntar! ‘syuro’ tengah malam mereka itu bener-bener mengganggu. Bukan karena aku memang udah ngantuk. Tapi aku juga belum tarawih. Secara gitu mereka syuro di musholla. Mana bisa gue solat ada mereka di situ.

Hampir jam 00.30 kayaknya mereka baru selesai. Akhirnya selesai juga! Setelah para akhwat itu hengkang dari mushola. Aku langsung beresin tarawih dengan murottal versi syaikh Sudais. Ekspress! Setelah itu tidur. ZzzzzzZZZzz…

Jam 3.30 bangun. Peserta dibangunkan juga. Jam4 kurang mereka udah kumpul lalu salah seorang instruktur jadi imam qiyamulail. Jam setengah 5 kurang. Peserta disuruh naik lagi ke kelas untuk sahur. Beres sahur, solat subuh berjamaah. Setelah solat subuh aku keluar. Ada guru bahasa Inggris ku waktu SMA. Namanya bu Yusleli. Sampai sekarang beliau masih single. Belum ketemu jodohnya. Dia agak kaget melihatku.

“ eh, kau nak..” aku senyum sambil menyalaminya.

“ sehat bu?” tanyaku

“ Alhamdulillah sehat…” jawabnya. Tapi kami tak sempat banyak ngobrol karena acara selanjutnya akan segera dimulai. Acara selanjutnya Muhasabah. Sepanjang acara muhasabah aku di luar aula. Nggak ikut ke dalam. Sampai acara selesai sekitar jam setengah 7. Lalu si ustadz (sebenarna sih nggak ustadz-ustadz banget, aku yakin usianya nggak beda jauh denganku. Tapi yang jelas dia lebih soleh..hehe..) yang bawa muhasabah menyuruh semua berdiri, panitia, instruktur dan alumni disuruh masuk.

Acara salam-salaman pun dimulai. Nasyid-nasyid Brothers mengalun lembut menambah haru suasana. Semua orang larut dalam suasana itu. Peserta, panitia, instruktur dan alumni saling bersalaman dan berpelukan sambil bermaafan dan air mata tak henti menetes. Wuiiihh..sedih banget dah! Yang bikin tambah sedih lagi, waktu si Ari -ketua panitia- cerita seluruh pengorbanan yang dilakukan panitia selama persiapan PKR sampai acara hari itu yang luar biasa berat. Ia terus bercerita sambil terisak-isak. Semua yang mendengarkan larut dalam kesedihannya.

Setelah beberapa orang diminta bicara, termasuk si Anggi mewakili akhwat, acara dilanjutkan dengan pembagian kelompok mentoring. Aku nggak ikut acara itu. Kepalaku udah terasa berat, minta segera diistirahatkan.

Aku Cuma bisa bilang satu hal; Pengalaman PKR yang luar biasa! Aku beruntung bisa hadir beberapa hari ketika acara PKR itu. Aku sangat berharap Allah mengizinkanku bisa hadir lagi PKR tahun depan. Berkumpul lagi dengan adik-adik panitia dan peserta. Membagi ilmu dan pengalaman, tertawa bersama, menangis bersama..ah indah banget! Terlalu indah sebenarnya untuk dituliskan disini.

Itu mungkin yang nggak dirasakan oleh beberapa alumni ‘terbina’ itu. Alasan mereka sungguh nggak bisa diterima akalku. Minimal ada dua orang laki-laki yang paling memungkinkan untuk terlibat di PKR itu. Yang satu bahkan teman sekelompokku waktu pembinaan ketika SMA dulu. Dia senior satu level di atasku. Yang lebih ironis, dia Mantan ketua ROHIS!! Alasannya sibuk, jaraknya jauh, dan segala macamlah. Sekarang udah menikah dan isterinya sedang hamil tua. Itu jadi tambahan alasannya untuk nggak bisa terlibat dengan PKR. Padahal waktu dia belum nikah sama aja tuh. Selalu bikin alasan kalo mau dilibatkan di PKR atau pembinaan di sekolah.

Yang satu lagi malah ikut terlibat di Sanlat di sekolah lain! Aneh kan? Di sekolah sendiri nggak mau, di sekolah lain malah ngebelain ikut terlibat. Mau nggak mau aku harus malu dengan teman-teman dan adik-adik akhwat yang terlibat di PKR. Sepertinya mereka nggak perlu diajak atau disuruh-suruh terlibat di PKR. Aku tau mereka punya kepedulian lebih pada perkembangan da’wah di SMK Telkom.

 

 

Namanya Astri…  

Ketika hari pertama sampai di sekolah, aku menghubungi si Anggi. Ngasi tau aku udah sampe di sekolah. Dia bilang hubungi panitia aja. Atau hubungi Doniko, Master of Training-nya. Belum selesai nelpon si Anggi ada akhwat lewat. Dia adik kelasku dua tahun di bawahku. Namanya Halima. Aku nanya sama dia gimana-gimananya. Aku minta jadwal sama si Halima. Dia lalu masuk ke ruangan akhwat. Tak lama ada seorang akhwat lagi melintas.

“ ini anak kayak kenal deh…siapa yaa?” batinku

Aku mencoba mengacak-acak memori di otakku. Mencari wajah yang baru saja kulihat. Wajahnya sih ingat. Kenal banget malah. Tapi aku lupa namanya. Lalu ada satu nama yang berkelebat di benakku. Astri. Akhwat itu namanya Astri. Adik kelasku satu tahun. Tetangga di sebelah kosku dulu. Katanya sekarang dia di Aceh, kuliah disana.

Tapi aku masih ragu. Bener nggak sih?

Setelah aku ngisi materi Personal Excellent itu, aku nanya ke si Anggi.

“ Nggi..itu si Astri kan?” tanyaku sambil menunjuk orang yang dituju.

“ iya..si Astri. Kenapa? Tiap tahun datang tuh Rief dari Banda Aceh kalo PKR..” jawab  si Anggi. Aku kaget mendengar kata-kata si Anggi. Hah? Tiap tahun datang dari Banda Aceh?

Subhanallah! Tau nggak sih berapa jarak Banda Aceh-Medan? Jaraknya itu kurang lebih sama dengan Bandung-Jogjakarta, atau Bandung-Bandar Lampung. Sekitar 12jam perjalanan. Alias 1hari! Itu akhwat bos! Aku nggak habis pikir. Apa dia nggak mikir jarak segitu itu jauh? Apa dia nggak mikir, ongkosnya kan mahal?! Apa dia nggak mikir, betapa capeknya duduk dalam bis selam seharian?!

Ah, seandainya ikhwan-ikhwan yang katanya sudah terbina itu tau bahwa si Astri ngebelain datang dari Banda Aceh ke Medan, apa mereka masih mau bilang jarak dari rumahnya ke sekolah (sama-sama di Medan) itu jauh? Apa mereka masih berani bilang, ongkos dari rumahnya ke sekolah itu mahal? Apa mereka masih bisa bilang datang ke sekolah itu capek???  

Astri…two thumbs up for you!